Showing posts with label Shirkuh. Show all posts
Showing posts with label Shirkuh. Show all posts

Thursday, August 9, 2012

Nuruddin Mahmud Zanki [bag. 1]

Nuruddin Mahmud Zanki, Pahlawan Muslim yang Terlupakan [bag. 1]

Kamis, 09 Agustus 2012

Oleh: Alwi Alatas

PADA tahun 1187, tak lama setelah pembebasan al-Quds (Yerusalem) oleh Shalahuddin al-Ayyubi, sebuah mimbar yang indah dipindahkan dari Aleppo (ulama menyebutnya Halabi) ke Masjid al-Aqsha. Mimbar yang telah dibuat beberapa tahun sebelumnya itu merupakan sebuah simbol kekuatan visi dan cita-cita pembebasan al-Quds. Ia memang dibangun untuk diletakkan di Masjid al-Aqsha jauh sebelum tempat itu sendiri berhasil dibebaskan dari kekuasaan tentara salib. Mimbar itu dibangun sebelum masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi oleh seorang sultan yang juga saleh, yaitu Nuruddin Mahmud Zanki (1118-1174).

Nuruddin Zanki memang meninggal dunia tiga belas tahun sebelum berhasil mewujudkan apa yang dicita-citakannya. Tetapi ia memainkan peranan yang sangat penting dalam memperbaiki keadaan masyarakat Muslim di Suriah yang sebelumnya sibuk dengan konflik internal dan perselisihan madzhab. Ia merupakan seorang sultan di Suriah, dan kemudian juga di Mosul (Iraq) dan Mesir.

Pemerintahannya tidak ditandai dengan adanya penaklukkan spektakuler terhadap wilayah musuh seperti yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih terhadap Konstantinopel atau Shalahuddin al-Ayyubi terhadap al-Quds. Tetapi apa yang dilakukannya boleh jadi lebih penting. Ia menaklukkan dengan keshalehan dan nilai-nilai yang agung dari Tuhannya. Kekuatan militernya tidak dilengkapi dengan persenjataan fisik yang hebat dan istimewa. Tetapi ia memiliki senjata yang jauh lebih menggetarkan musuh-musuhnya, yaitu kekuatan doa dan pertolongan dari Yang Maha Penolong. Seorang non-Muslim di al-Quds bahkan mengakui hal ini.

“Sesungguhnya Abul Qasim (Nuruddin) memiliki sirr ‘rahasia’ dengan Allah,” katanya. “Tidaklah ia mengalahkan kami dengan bala tentaranya yang banyak, akan tetapi ia menang atas kami dengan doa dan shalat malamnya. Ia shalat di malam hari, mengangkat tangannya kepada Allah untuk berdoa dan meminta kepada-Nya. Dan Allah mengabulkan permintaannya serta tidak menjadikan doanya sia-sia, sehingga akhirnya dia menang atas kami.”


Nuruddin Zanki memerintah wilayah Suriah Utara setelah ayahnya, Imaduddin Zanki, wafat pada tahun 1146. Usianya ketika itu 28 tahun. Ia memerintah wilayah itu dari kota Aleppo (Halab). Ketika kakaknya meninggal dunia pada tahun 1149, ia menggabungkan Mosul di Iraq dalam wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1154, Damaskus, kota penting lainnya di Suriah, juga masuk dalam wilayah pemerintahannya setelah melalui strategi yang cukup panjang.

Pada akhir masa pemerintahannya, tepatnya pada tahun 1169, Shirkuh dan keponakannya Shalahuddin yang bekerja di bawah pemerintahannya menambahkan Mesir ke dalam wilayah pemerintahan Nuruddin Zanki. Hal ini membuat kekuatan salib di al-Quds terjepit di antara wilayah kepemimpinan Nuruddin Zanki. Hanya saja beliau meninggal dunia tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1174. Kepemimpinan atas wilayah-wilayah itu kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang juga memerintah dengan cara-cara yang Islami sehingga pada akhirnya berhasil membebaskan al-Quds dari tangan pasukan salib pada tahun 1187.

Prestasi Militer Nuruddin Zanki

Nuruddin Zanki memiliki gaya militer yang khas. Ia tidak tergesa-gesa dalam menghadapi pasukan lawan. Kadang saat pasukannya berada di suatu daerah dan mendengar kedatangan pasukan musuh ke tempat itu, ia akan menarik pasukannya ke tempat lain. Tetapi ia melakukan hal itu untuk menyelidiki jumlah dan keadaan pasukan lawan, sambil terus melakukan pengintaian. Setelah musuh berangkat kembali dari tempat mereka, Nuruddin akan mengikuti dan menyergap mereka dengan tiba-tiba. Dengan cara ini, ia berhasil memenangkan banyak pertempuran dan mengurangi jumlah korban dari pasukan Muslim.

Adapun terhadap emir-emir Muslim di Suriah-Palestina yang masih menentangnya, ia menghindari konflik terbuka serta pertempuran fisik dengan mereka. Ia selalu menyeru mereka untuk berjihad bersamanya melawan kekuatan salib. Jika mereka menentangnya, ia akan melakukan tekanan politik terhadap mereka sambil melakukan persuasi dan menarik simpati para ulama di wilayah-wilayah yang dipimpin oleh para emir itu. Dengan begitu, walaupun para ulama dan masyarakat tersebut berada dalam wilayah kekuasaan yang berbeda, tetapi hati mereka bersama Nuruddin Zanki dan selalu mendoakan kemenangannya. Kesalehan serta cara-cara yang lembut seperti inilah yang membuat Nuruddin Zanki pada akhirnya dapat menyatukan seluruh Suriah ke dalam satu pemerintahan, setelah wilayah itu tercerai berai dan saling bermusuhan selama lebih dari setengah abad.

Ia sangat terampil berkuda dan memimpin secara langsung banyak pertempuran pada masa itu. Keberaniannya di medan tempur membuat seorang ulama pada masanya, Qutb al-Din al-Nasawi, menasihatinya, ”Demi Allah, jangan membahayakan dirimu dan seluruh dunia Islam! Kalau Anda gugur di medan pertempuran, maka seluruh Muslim yang hidup akan dibunuh (oleh musuh).” Tapi Nuruddin Mahmud Zanki mempunyai pandangan yang berbeda. ”Dan siapalah Mahmud sehingga dikatakan seperti ini?” katanya. “Sebelum saya lahir sudah ada yang lain yang membela Islam dan negeri ini, yaitu Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya!”

Ia sangat memperhatikan keadaan pasukannya dan selalu menjadikan mereka siap siaga dalam menghadapi pasukan musuh. Pasukannya merupakan yang paling kuat di Suriah pada masa itu. Tentang ini Ibn al-Qalanisi berkata, ”Tidak ada yang pernah melihat tentara yang lebih baik daripada tentaranya ... (baik) dalam hal penampilan, perlengkapan, maupun jumlahnya.”

Namun karena keadaan kaum Muslimin ketika itu belum sepenuhnya bersatu padu dalam menghadapi musuh, maka pembebasan wilayah itu dari pasukan salib masih harus menunggu saat yang lebih tepat.

Bukan hanya tentara yang dipersiapkan, kuda-kuda pun selalu dalam keadaan terlatih. Di waktu senggangnya, Nuruddin Zanki suka berburu dan bermain polo kuda. Ketika seorang temannya yang saleh mendengar tentang kebiasaannya bermain polo kuda, ia segera menyuratinya: “Aku tidak menyangka bahwa kau senang dengan permainan yang tak ada manfaatnya serta menyiksa kuda tanpa faedah diniyah.”

Maka Nuruddin menjawab surat tersebut, “Sesungguhnya kami berada di front pertahanan, yang mana musuh sangat dekat dari kami, sehingga kami harus selalu siap siaga untuk mengantisipasi setiap serangan. Dan tidak mungkin kami terus-menerus berperang dan berjihad siang dan malam, musim dingin dan musim panas, karena bala tentara kami juga memerlukan istirahat. Dan juga tidak mungkin kami biarkan kuda-kuda kami hanya diam di kandangnya tidak bergerak, karena itu akan membuat mereka lemah dan tak mampu berlari jauh dan cepat, menikuk, menyerang di medan perang. Maka dari itu kami senantiasa melatihnya dan terus membiasakannya agar hilang kelemahannya dan selalu siap berlari cepat dan taat kepada penunggangnya di waktu peperangan. Dan inilah, demi Allah Swt, yang menjadikan aku bermain polo kuda.”

Pencapaian Militer

Selama masa pemerintahannya, ada beberapa pencapaian militer yang cukup penting yang telah dilakukan oleh Nuruddin Zanki dalam menghadapi Pasukan Salib, antara lain seperti berikut ini:

Pertama, ia ikut memberikan dukungan kepada Damaskus saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Ketika itu pasukan dari Perancis dan Jerman yang dipimpin oleh Raja Louis VII dan Raja Conrad III bergerak ke Suriah dan Palestina. Sebetulnya Perang Salib kedua ini dipicu oleh jatuhnya Edessa ke tangan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, pada tahun 1144. Tetapi sesampainya di Palestina, pasukan yang baru datang dengan orang-orang Frank (orang-orang Eropa Barat) yang telah menetap di Palestina bersepakat untuk mengarahkan serangan pada Damaskus.

Pasukan salib kemudian mengepung kota Damaskus yang dipimpin oleh Mu’inuddin Unur. Tetapi kota itu mampu bertahan, dan pada saat yang sama pasukan Nuruddin Zanki dan pasukan Saifuddin Ghazi, kakak Nuruddin, bergerak dari Aleppo dan Mosul menuju ke Damaskus untuk memberikan bantuan. Pasukan salib akhirnya memutuskan untuk mundur dari kota itu. Raja Louis dan Conrad kembali ke negeri mereka masing-masing dengan memendam kekecewaan terhadap orang-orang Frank di Suriah-Palestina yang dianggap telah ikut berperan dalam kegagalan tersebut. Tak lama setelah peristiwa itu, Mu’inuddin dan Nuruddin Zanki berhasil menangkap seorang bangsawan Eropa, Bertrand, yang menyertai Perang Salib II. Bertrand kemudian dibawa ke Aleppo dan ditahan selama dua belas tahun lamanya di kota itu.

Kedua, pada tahun 1149, dalam pertempuran di daerah Inab, pasukan Nuruddin Zanki berhasil mengalahkan pasukan Raymond of Poitiers, pemimpin Antioch, yang ketika itu dibantu oleh sepasukan Assassin. Nuruddin pada awalnya menarik pasukan saat mengetahui pasukan musuh mendekati Inab. Tetapi ia terus mengintai dan memperhatikan gerak-gerik pasukan lawan. Kemudian saat lawan beristirahat di suatu tempat, Nuruddin menempatkan pasukannya di sekelilingnya, sehingga lawan mereka dalam keadaan terkepung saat bangun di pagi hari. Raymond of Poitiers dan pemimpin Assassin yang menyertainya gugur dalam pertempuran itu.

Ketiga, pada tahun berikutnya, 1150, sepasukan Turki Saljuk berhasil menangkap Joscelin, pemimpin wilayah Edessa yang ibukotanya telah dikuasai oleh Nuruddin. Penahanan Joscelin kemudian diambil alih oleh Nuruddin. Joscelin ditahan di Aleppo dan meninggal dunia di penjara sembilan tahun kemudian.

Keempat, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Nuruddin Zanki berhasil menyatukan Damaskus ke dalam wilayah kepemimpinannya pada tahun 1154. Proses penyatuan Damaskus berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1149, ketika Mu’inuddin Unur wafat. Pengambil-alihan kota ini dilakukan oleh Nuruddin karena penguasa kota ini tidak mau membantunya berjihad dan malah menjalin kerjasama dengan kekuatan salib.

Lamanya proses penguasaan ini disebabkan Nuruddin menghindari terjadinya pertempuran terbuka di antara kedua belah pihak yang sama-sama Muslim. Walaupun Nuruddin berkali-kali membawa pasukannya mendekati Damaskus, tetapi ini dilakukannya sebagai bentuk tekanan politik dan psikologis terhadap pemimpin Damaskus, dan hal itu tidak membawa pada pertempuran yang berarti di antara kedua belah pihak. Nuruddin melakukan langkah-langkah persuasif kepada para ulama dan tokoh-tokoh di Damaskus, sehingga lama kelamaan penguasa kota itu kehilangan dukungan dari rakyatnya sendiri. Akhirnya kota itu berhasil dikuasainya setelah masyarakat Damaskus sendiri yang membuka gerbang kota itu. Dikuasainya Damaskus oleh Nuruddin menandai suatu era baru di Suriah setelah wilayah itu terpecah belah sejak tahun 1090-an.

Kelima, pasukan Nuruddin berhasil menangkap Reynald of Chattilon, pemimpin Antioch selepas wafatnya Raymond of Poitiers, dalam sebuah pertempuran pada tahun 1160. Reynald yang kepemimpinannya banyak menimbulkan masalah itu kemudian diikat dan dibawa ke Aleppo. Ia ditahan selama enam belas tahun di kota itu.

Keenam, atas permintaan Mesir sendiri dan karena adanya ancaman pasukan salib atas negeri itu, Nuruddin mengirimkan tiga kali ekspedisi militer ke Mesir di bawah pimpinan Shirkuh antara tahun 1164 dan 1169. Mesir akhirnya jatuh ke tangan pasukan Nuruddin. Dinasti Fatimiyah yang menguasai wilayah itu kemudian dihapuskan pada tahun 1171, menjadikan Mesir menyatu ke dalam wilayah pimpinan Nuruddin Zanki.

Pada akhir masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki mencakup wilayah Suriah, Hijaz, Mesir, dan sebagian Irak. Nuruddin berhasil menyatukan wilayah-wilayah itu ke dalam satu pemerintahan dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pondasi utama pemerintahannya. Sementara pada saat yang sama, kekuatan salib mulai tidak kompak di antara sesama mereka dalam menghadapi kekuatan Muslim. Apa yang dibangun oleh Nuruddin ini kelak menjadi pondasi yang kokoh bagi pemimpin berikutnya di wilayah-wilayah itu, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi, dalam menghadapi pasukan salib dan membebaskan al-Quds.

Bagaimanapun, kekuatan dan prestasi militer hanya salah satu bagian yang penting dari pemerintahan Nuruddin Zanki. Di samping militer, ada hal lain yang membuat kepemimpinan Nuruddin sangat berkesan, yaitu dibangunnya nilai-nilai Islam yang kuat di wilayah itu.

Karakter Islami Pemerintahan Nuruddin

Nuruddin Zanki terkenal sebagai pemimpin yang saleh dan adil. Ibnu al-Athir, seorang sejarawan Muslim, penulis kitab Al-Kamil fi-l-Tarikh, menganggapnya sebagai pemimpin Muslim yang paling adil selepas Umar bin Abdul Aziz.

Nuruddin dikenal sebagai pemimpin yang selalu menjaga shalat berjamaah, shalat malam (Qiyamul Lail), banyak membaca al-Qur’an, dan berpuasa. Ia memiliki ilmu agama yang mendalam, sangat dekat dengan para ulama, dan ikut meriwayatkan hadits bersama mereka.

Keadilan dan penegakkan syariah merupakan hal yang sangat menonjol dalam pemerintahannya. Ia mendorong dilangsungkannya majelis-majelis ilmu, mendirikan madrasah-madrasah, serta memberikan berbagai wakaf untuk keperluan agama dan masyarakat.

Di antara sumbangan pentingnya bagi kemaslahatan orang ramai adalah pendirian rumah sakit yang dikenal sebagai maristan. Berikut ini ada beberapa karakteristik penting yang dimiliki oleh Nuruddin dan pemerintahannya.*/bersambung

Penulis adalah penulis buku "Nuruddin Zanki dan Perang Salib" kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/24241/09/08/2012/nuruddin-mahmud-zanki,-pahlawan-muslim-yang-terlupakan-%5Bbag.-1%5D.html

Thursday, July 5, 2012

Mursy, Zanki, dan Harapan Kebangkitan Islam

Selain ada Iran, Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat

Kamis, 05 Juli 2012
Oleh: Alwi Alatas

TERPILIHNYA Dr. Muhammad Mursy sebagai Presiden Mesir memberikan ruh dan gairah baru di negeri yang selama beberapa dekade dipimpin oleh diktator itu. Fenomena terpilihnya Mursy tidak hanya menarik dan berkesan bagi masyarakat Mesir atau komunitas di kawasan Timur Tengah semata, tetapi juga bagi masyarakat dunia pada umumnya. Kemenangan Mursy ikut dirasakan sebagai kemenangan, atau setidaknya sebagai sebuah contoh yang bisa diambil sebagai pelajaran, oleh banyak orang di negeri-negeri lainnya.


Editorial Media Indonesia pada hari Rabu, 27 Juni 2012, misalnya, mengangkat tema ‘Belajar dari Mursy’. Harian tersebut menyebutkan bahwa pidato yang dibawakan oleh Dr. Mursy melegakan semua pihak dan ia menyatakan siap menjadi pemimpin bagi semua warga Mesir. Mursy juga tidak menganggap dirinya sebagai penguasa, tetapi masyarakatlah yang merupakan penguasa, sebuah pesan yang perlu diambil pelajaran oleh para pemimpin di Tanah Air.

Sementara banyak pembaca yang tentunya telah mengetahui tentang Muhammad Mursy, karena berita tentang beliau banyak menghiasi media massa belakangan ini, mungkin banyak yang belum mengetahui tentang Nuruddin Zanki (1118-1174), tokoh yang juga hendak diangkat di dalam tulisan ini. Berikut ini merupakan informasi ringkas tentang Nuruddin Zanki. Beliau merupakan seorang keturunan Turki Saljuk yang menjadi sultan di Suriah menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1146. Beliau memimpin wilayah tersebut pada masa Perang Salib II dan setelahnya.

Proses penyatuan wilayah Muslim di Suriah dan sekitarnya serta proses Islamisasi wilayah tersebut dapat dikatakan dimulai oleh tokoh ini, setelah sebelumnya kaum Muslimin berpecah belah dan sibuk dengan perselisihan mazhab dan politik. Pada akhir masa pemerintahannya, ia mengutus Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, untuk masuk ke Mesir yang kemudian berlanjut dengan proses penghapusan Dinasti Fatimiyah oleh Shalahuddin. Nuruddin juga membangun visi yang kuat untuk membebaskan al-Quds yang ketika itu dikuasai oleh pasukan salib, walaupun beliau meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan hal itu. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.


Melalui tulisan ini kami ingin melakukan sedikit komparasi antara apa yang terjadi di Mesir sekarang ini dengan apa yang pernah berlaku pada masa Nuruddin Zanki. Sebetulnya perbandingan ini agak terlalu dini dan barangkali tidak sepenuhnya relevan, karena di samping adanya perbedaan-perbedaan waktu, tempat, dan kondisi sosial-politik yang dihadapi oleh kedua tokoh ini, kemenangan Mursy juga masih berada di fase yang sangat awal dan belum diketahui akhirnya. Namun, ada beberapa kesamaan yang membuat kami tertarik untuk merefleksikan fenomena kemenangan Mursy ini pada apa yang pernah terjadi kira-kira 850 tahun yang lalu di kawasan yang hampir sama. Beberapa kesamaan itu terkait dengan suasana zaman serta harapan yang muncul di tengah masyarakat Muslim terkait dengan hadirnya masing-masing figur ini.

Kita akan memulainya dari beberapa kemiripan suasana zaman. Nuruddin Zanki muncul sebagai pemimpin ketika masyarakat Muslim masih relatif terpecah belah.

Para pemimpinnya enggan bersatu dan para ulama sibuk dengan perselisihan mazhab. Dunia Islam yang dihadapi Mursy pada hari ini juga kurang lebih seperti itu. Para pemimpin Arab dan Muslim cenderung bermusuh-musuhan, dan para ulama dan tokoh Islam sibuk dengan perselisihan di antara mereka. Dunia Islam pada masa Nuruddin Zanki terpecah antara Sunni dan Syiah: Abbasiyah yang Sunni di Iraq, Iran, Suriah, dan Jazirah Arab berhadapan dengan Fatimiyah yang berhaluan Syiah Ismailiyah di Mesir.

Dunia Islam pada hari ini juga mengalami polarisasi ini: Mesir, Palestina, Turki, dan Jazirah Arab yang Sunni serta Iran yang berpaham Syiah Itsna Asy’ariah dan kini berada dalam satu kubu dengan Iraq dan Suriah. Perbedaannya adalah, pada masa kemunculan Nuruddin Zanki, Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah mulai melemah, sementara Iran pada hari ini masih memiliki pengaruh yang sangat menonjol di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Zanki dan Mursy sama-sama menghadapi isu yang sangat krusial di dunia Islam, yaitu jatuhnya al-Quds (Yerusalem) ke tangan non-Muslim. Saat Nuruddin Zanki menjadi sultan pada tahun 1146, al-Quds telah dikuasai oleh kekuatan salib Kristen selama 47 tahun.

Kini, ketika Mursy terpilih sebagai presiden Mesir, al-Quds telah dikuasai oleh Zionis Yahudi selama 64 tahun. Kedua tokoh ini, Zanki dan Mursy, sama-sama memiliki visi yang kuat untuk mengembalikan al-Quds ke tangan kaum Muslimin. Mursy merupakan kader al Ikhwan al Muslimun, organisasi yang telah sejak lama mencita-citakan pembebasan al-Quds dari tangan Zionis. Hamas di Palestina yang berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan Israel, lebih memiliki afiliasi khusus dengan Ikhwanul dan bukannya dengan Iran sebagaimana yang disebut-sebut oleh beberapa media. Karena itulah kemenangan Mursy menimbulkan kekhawatiran yang besar di pihak Israel dan memberi harapan lebih besar bagi pembebasan Palestina.

Kepribadian keduanya juga memiliki beberapa kesamaan, setidaknya dalam semangat keagamaan. Nuruddin Zanki merupakan seorang pemimpin yang shalih dan zuhud. Beliau selalu menegakkan shalat berjamaah, melakukan shalat malam, menyintai para ulama, ikut meriwayatkan hadits, dan sangat menjunjung tinggi syariat dan penegakkan keadilan.

Muhammad Mursy juga merupakan seorang yang shalih, hafiz al-Qur’an, dan selalu berusaha menegakkan shalat berjamaah. Bahkan kini setelah menjadi presiden beliau tetap menjalankan kebiasaannya itu dan menjadi imam bagi para pengawal pribadinya (Kompas.com, 28 Juni 2012).

Kehidupan Zanki jauh dari kemewahan, ia tidak mau makan berlebihan, dan ia terbiasa hidup sederhana. Ia tidak memandang kerajaan yang berada di dalam genggamannya sebagai milik atau sumber penghasilannya.

Ketika istrinya mengutus seseorang untuk meminta tambahan uang belanja kepadanya, Nuruddin Zanki menegur dengan kata-kata, “… Seandainya dia berpikir bahwa harta yang berada di tanganku adalah hartaku, sesungguhnya itu adalah pikiran yang salah. Sesungguhnya itu adalah harta Muslimin, dan untuk maslahat Muslimin, dan disiapkan untuk keadaan perang. Aku telah dijadikan penjaganya, dan aku tak akan mengkhianati mereka.”

Mursy juga bukan seorang yang mementingkan kesenangan duniawi. Walaupun ia merupakan seorang doktor bidang teknik lulusan Amerika Serikat, kehidupannya relatif sederhana. Rumahnya berada di luar kota Kairo dan ia mengontrak rumah selama beraktivitas di Kairo. Saat diangkat menjadi presiden, tampaknya ia dan keluarganya merasa enggan untuk pindah dan tinggal di istana kepresidenan.

Kemunculan Nuruddin Zanki dan Mursy pada zaman mereka masing-masing meniupkan suatu harapan baru di tengah dunia Islam, setelah kaum Muslimin tenggelam dalam kemunduran dan kekalahan selama beberapa waktu lamanya. Di masa-masa Perang Salib, harapan itu mulai muncul sejak masa kepemimpinan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, dan menjadi lebih kuat lagi pada masa kepemimpinan Nuruddin Zanki. Harapan ini terlihat jelas, misalnya, pada proses penyatuan Damaskus ke dalam wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki pada tahun 1150-an. Ketika menguasai beberapa wilayah di sekitar Damaskus, Nuruddin Zanki melarang anak buahnya melakukan penjarahan atau kezaliman terhadap penduduk.

Pada suatu hari, ketika Nuruddin Zanki dan pasukannya tiba di wilayah Ba’albek pada pertengahan tahun 1150, tiba-tiba hujan turun selama tiga hari berturut-turut, setelah sekian lama hujan tidak turun di wilayah itu. Orang-orang mengaitkan hal ini dengan kehadiran Nuruddin Zanki dan mengatakan, “Ini semua disebabkan oleh pengaruhnya yang penuh berkah, keadilannya dan perbuatannya yang lurus.” Kini ketika Mursy meraih kemenangan di Mesir, harapan-harapan baru pun muncul di tengah kaum Muslimin di beberapa belahan dunia. Kaum Muslimin di luar Mesir ikut menyambut kemenangan Mursy, seolah-olah sosok ini adalah presidennya juga. Foto-foto serta berita tentang Mursy yang bermunculan di beberapa media sosial, menyiratkan cukup besarnya harapan itu.


Bagaimanapun, Mursy masih berada di fase awal kemenangannya. Nuruddin Zanki sudah melewati zamannya dan telah menutup perjuangannya dengan manis. Mursy masih harus melewati hari-harinya dan sejarah masih akan mencatatnya. Dulu Nuruddin Zanki memulai perjuangannya sebagai sultan di Suriah dan pada akhir masa pemerintahannya berhasil menaklukkan Mesir dan mengakhiri riwayat Dinasti Fatimiyah yang memang sedang sakratul maut. Penyatuan kedua kekuatan ini kemudian membuka jalan bagi Shalahuddin al-Ayyubi pada masa berikutnya untuk membebaskan al-Quds dan Palestina dari tangan pasukan salib.

Kini Mursy mulai memimpin Mesir dan pada saat yang sama Suriah yang dipimpin oleh rezim berlatar Syiah Alawit tengah bergejolak. Semua mata tengah memandang, akankah rezim di Suriah jatuh pada akhirnya dan akankah hal itu membuka jalan bagi dikuasainya kembali al-Quds oleh kaum Muslimin? Banyak yang memiliki harapan seperti ini.

Bagaimanapun, ada beberapa perbedaan yang perlu dicermati. Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah sangat lemah pada masa Nuruddin Zanki dan Nuruddin Zanki tidak masuk ke Mesir melainkan karena dua alasan.

Pertama, karena pasukan salib masuk ke negeri itu atas undangan wazir Mesir dan berusaha menanamkan pengaruhnya di sana.

Kedua, karena khalifah Fatimiyah, yang berseberangan dengan wazirnya, meminta pertolongan kepada Nuruddin Zanki agar ia mengirimkan pasukan untuk membantu mereka. Hal ini disetujui Nuruddin Zanki dengan dikirimkannya Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, beserta pasukannya ke Mesir. Setelah Mesir dikuasai dan Shalahuddin kemudian menjadi pemimpin Mesir, proses perubahan pemerintahan Mesir menjadi Sunni dilakukan secara gradual dan tanpa kekerasan.

Barulah pada masa berikutnya, setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174, Mesir dan Suriah bahu membahu di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dalam melancarkan perjuangan sehingga tercapainya pembebasan al-Quds dan Palestina beberapa tahun berikutnya.

Keadaannya berbeda pada hari ini. Di tengah mulai munculnya kekuatan politik Sunni di Timur Tengah saat ini, kekuatan politik Syiah yang berpusat di Iran juga masih sangat menonjol. Hal ini membuka peluang bagi terjadinya gesekan dan benturan fisik di antara kedua belah pihak yang sebetulnya tidak menguntungkan bagi dunia Islam secara keseluruhan.

Ancaman benturan itu cukup terasa pada pertarungan di Suriah saat ini di mana pemerintahan Sunni pada umumnya berpihak pada masyarakat Suriah dan berusaha menjatuhkan rezim Assad, sementara Iran membela dan berusaha mempertahankan pemerintahan Suriah yang sejak lama telah menjadi sekutunya.

Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat. Masalahnya, jika pada masa Nuruddin Zanki dahulu Fatimiyah menjadi pihak yang bekerja sama dengan kekuatan salib, kini dunia Sunni berada di front yang sama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya. Apa pun alasannya, keadaan ini dapat membawa pada dua konsekuensi: apakah Amerika Serikat yang dimanfaatkan untuk mendongkel rezim Suriah, atau Amerika Serikat dan sekutunya yang memanfaatkan kaum Muslimin untuk berperang satu sama lain dan pada gilirannya akan melanggengkan hegemoninya di Timur Tengah. Ini merupakan keadaan yang mesti disikapi dengan sangat hati-hati. Sebab sejarah sering memberitahu kita bahwa terjadinya kerjasama dengan musuh yang lebih kuat dalam sebuah konflik internal bukanlah pertanda yang bagus bagi independensi suatu masyarakat dari penjajahan.

Perjalanan Mursy dan Mesir masih cukup panjang. Kita pun tidak kehilangan harapan dan optimisme bahwa ini merupakan awal dari kemenangan dunia Islam serta pembebasan al-Quds. Harapan itu akan tetap ada, selama jalan-Nya tetap diikuti dan keridhaan serta pertolongan-Nya masih tetap menaungi umat ini.*/Singapura, 15 Sha’ban 1433/ 5 Juli 2012

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

http://hidayatullah.com/read/23495/05/07/2012/mursy,-zanki,-dan-harapan-kebangkitan-islam.html



Tuesday, July 3, 2012

Nuruddin Zanki-Bagian 2-Republika

Nuruddin Mahmud Zanki: Raja Adil, Cahaya Agama (Bag 2)
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 19:07 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Kegagalan dua kerajaan Barat itu dimanfaatkan Nuruddin untuk melancarkan serangan ke tepi timur Orontes pada tahun 1149. Serangan itu dilakukan untuk menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Pangeran Antiokhia, Raymond dari Poitiers, membantu membantu Istana Inab yang diserang oleh Nuruddin.

Dalam sebuah pertempuran yang hebat, tentara Muslim berhasil membuat pasukan Tentara Salib bertekuk lutut. Pangeran Antiokia bernama Raymond pun terbunuh dalam perang itu. Pasukan tentara Nuruddin pun berhasil merebut seluruh wilayah Antiokhia.

Nuruddin memiliki cita-cita yang luhur dan mulia. Ia ingin menyatukan pasukan tentara Muslim, mulai dari Sungai Eufrat hingga Nil untuk melawan Tentara Salib. Pada 1149, kakaknya tutup usia.tahta kerajaan di Mosul dilanjutkan oleh adiknya, Qutbuddin. Namun Qutbuddin menyerahkan kekuasaannya kepada Nuruddin, sehingga kerjaan tersebut menjadi satu seperti ketika di bawah kepemimpinan ayah mereka.

Pada 1150 dan 1151 Nuruddin berupaya menyerang Damaskus, karena ternyata Mu’inuddin melakukan perjanjian dengan Tentara Salib. Namun ia gagal menguasai Damaskus. Setelah melakukan berbagai upaya militer, akhirnya pada 1154, ia akhirnya dapat merebut Damaskus di bawah kepemimpinan Mujiruddin, penerus Mu’inuddin.

Damaskus menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Zanki dan seluruh Suriah disatukan di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, mulai dari Edessa di utara hingga Hauran di selatan. Pada 1157, Nuruddin menyerang Ksatria Hospitaller di benteng Tentara Salib di Banias dan membuat mereka kocar-kacir.


Ada kisah menarik dari kehidupan Nuruddin. Saat itu, ia melaksanakan ibadah haji, ia berhasil menggagalkan usaha dua orang Yahudi yang menggali terowongan menuju makam Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut mereka lakukan untuk mencuri jasad Rasulullah agar dapat merendahkan martabat dan menghina umat islam.

Pada 562 Hijirah, Nuruddin menugaskan Salahuddin dan pamannya, Syirkuh, memimpin pasukan untuk melawan Pasukan Salib di Mesir. Pada saat itu terjadi perseteruan antara panglima Dargham dan menteri Syawur yang berkuasa di Dinasti Fatimiyah di Mesir. Satu pihak meminta bantuan pada Pasukan Salib, yang lain meminta bantuan pada Kesultanan Syam. Maka pertempuran antara pasukan Nuruddin dan Tentara Salib pun tak dapat terelakkan.

Usaha untuk menguasai Mesir baru tercapai dua tahun kemudian, ketika Nuruddin berhasil meringkus menteri Syawur yang bersekongkol dengan Tentara Salib. Lebih dari 50 kota berhasil direbut oleh Nuruddin, kecuali Al-Quds. Setelah menaklukkan Mesir, Nuruddin meyakini bahwa tujuannya mempersatukan Negara Muslim telah tercapai.

Namun terjadilah kesalahpahaman antara Nuruddin dan Salahuddin. Saat itu Nuruddin ingin mengepung kota Al-Kurk. Ia menyurati Salahuddin untuk mengirim pasukan ke tempat yang disepakati. Salahuddin pun berangkat ke tempat tersebut. Namun ia menyadari Mesir akan menjadi tidak aman apabila ditinggalkan.

Salahudin pun mengirimkan surat permintaan maaf kepada Nuruddin dan kembali ke Mesir. Hal ini membuat Nuruddin marah dan berniat untuk menyerang Salahuddin di Mesir. Akibatnya, Salahuddin akhirnya menyatakan ketundukannya atas Nuruddin dan Nuruddin membatalkan serangannya.

Nuruddin meninggal akibat komplikasi penyempitan pada tenggorokan. Ia wafat pada usia ke-59. Putranya, As-Salih Ismail Al-Malik menjadi pemimpin pengganti ayahnya. Perjuangan Nuruddin melawan Tentara Salib dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: friska yolandha

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7rp-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-2

Koreksi:

Raymond dan pasukannya terbunuh oleh pasukan Nuruddin pada pertempuran di tahun 1149, tapi wilayah Antiokhia tidak jatuh ke tangan Nuruddin. Antiokhia merupakan wilayah yang berhasil dipertahankan oleh pasukan salib untuk waktu yang lama dan belum jatuh ke tangan Muslim pada masa Nuruddin Zanki ataupun Shalahuddin al-Ayyubi. Wilayah ini baru jatuh pada masa Dinasti Mamluk, tahun 1268.

Tidak pernah terjadi konflik antara Nuruddin Zanki dan Mu’inuddin Unur. Nuruddin Zanki baru berusaha menaklukkan Damaskus, karena alasan yang disebutkan di artikel, setelah wafatnya Mu’inuddin Unur pada tahun 1149.