24 Juli 2012 - 10.02 WIB > Dibaca 175 kali Print
PEKANBARU (RP) - Hari pertama, ratusan jamaah hadiri bedah buku keislaman di Masjid Agung Annur Pekanbaru.
Kegiatan bedah buku tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Umum BPMAA Drs Sukmadi Senin (23/7).
Helat yang dilaksanakan setiap hari dari Senin hingga Jumat itu bertempat di aula Masjid Agung Annur. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis.
Mengulangi tradisi keilmuan tahun-tahun sebelumnya, Tafaqquh Study Club bekerja sama dengan majlis taklim Masjid Agung Annur, Badan Pengelola Masjid Agung Annur Pekanbaru dan pengurus Masjid Akramunnas Unri menyelenggarakan bedah buku keislaman. Ramadan 1433 H ini, Tafaqquh membedah 15 buku-buku keislaman.
Sementara itu Pembina Tafaqquh Study Club mengemukakan untuk membedah buku-buku tersebuh, pihaknya menghadirkan para ustad yang pakar di bidang masing-masing, sesuai dengan buku yang akan dibedah. Bahkan Tafaqquh menghadirkan langsung para penulis buku yang akan dibedah.
Seperti buku Muhammad Alfatih akan dibedah penulisnya yakni Ustad Felix Siauw. Khusus bedah buku Al-Fatih ini tempat penyelenggaraannya berada di Masjid Akramunnas Unri Gobah Pekanbaru Sabtu (28/7).
Sementara itu Ustad Alwi Alatas MA akan membedah karyanya berjudul Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Mahasiswa Program Doktoral di Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia itu akan hadir pula mendiskusikan bukunya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Zainab dan di Forum Silaturahmi Remaja Masjid Muthmainnah (FRSMM) Polda Riau.
Pada hari pertama Senin (23/7), buku yang dibedah bertajuk Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat. Buku karya penulis Timur Tengah Abu Hudzaifah Ibrahim ini dibedah oleh Ustad Syamsuddin Muir Lc MA.
Para pembedah buku lainnya yakni Ustad Masridi Hasan Lc MA, Abdul Somad Lc MA, Muhammad Abdih Lc MA, Muhammad Hidayatullah Lc MA, Fikri Mahmud Lc MA, Ridwan Hasbi Lc MA, Isran Bidin MA, Elviriadi MA, Dr Khairul Anwar MA, Saidul Amin MA dan Jumhur Hidayat MA.(ira)
http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=14746&kat=1
Showing posts with label Perang Salib II. Show all posts
Showing posts with label Perang Salib II. Show all posts
Monday, August 13, 2012
Thursday, July 5, 2012
Mursy, Zanki, dan Harapan Kebangkitan Islam
Selain ada Iran, Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat
Kamis, 05 Juli 2012
Oleh: Alwi Alatas
TERPILIHNYA Dr. Muhammad Mursy sebagai Presiden Mesir memberikan ruh dan gairah baru di negeri yang selama beberapa dekade dipimpin oleh diktator itu. Fenomena terpilihnya Mursy tidak hanya menarik dan berkesan bagi masyarakat Mesir atau komunitas di kawasan Timur Tengah semata, tetapi juga bagi masyarakat dunia pada umumnya. Kemenangan Mursy ikut dirasakan sebagai kemenangan, atau setidaknya sebagai sebuah contoh yang bisa diambil sebagai pelajaran, oleh banyak orang di negeri-negeri lainnya.
Editorial Media Indonesia pada hari Rabu, 27 Juni 2012, misalnya, mengangkat tema ‘Belajar dari Mursy’. Harian tersebut menyebutkan bahwa pidato yang dibawakan oleh Dr. Mursy melegakan semua pihak dan ia menyatakan siap menjadi pemimpin bagi semua warga Mesir. Mursy juga tidak menganggap dirinya sebagai penguasa, tetapi masyarakatlah yang merupakan penguasa, sebuah pesan yang perlu diambil pelajaran oleh para pemimpin di Tanah Air.
Sementara banyak pembaca yang tentunya telah mengetahui tentang Muhammad Mursy, karena berita tentang beliau banyak menghiasi media massa belakangan ini, mungkin banyak yang belum mengetahui tentang Nuruddin Zanki (1118-1174), tokoh yang juga hendak diangkat di dalam tulisan ini. Berikut ini merupakan informasi ringkas tentang Nuruddin Zanki. Beliau merupakan seorang keturunan Turki Saljuk yang menjadi sultan di Suriah menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1146. Beliau memimpin wilayah tersebut pada masa Perang Salib II dan setelahnya.
Proses penyatuan wilayah Muslim di Suriah dan sekitarnya serta proses Islamisasi wilayah tersebut dapat dikatakan dimulai oleh tokoh ini, setelah sebelumnya kaum Muslimin berpecah belah dan sibuk dengan perselisihan mazhab dan politik. Pada akhir masa pemerintahannya, ia mengutus Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, untuk masuk ke Mesir yang kemudian berlanjut dengan proses penghapusan Dinasti Fatimiyah oleh Shalahuddin. Nuruddin juga membangun visi yang kuat untuk membebaskan al-Quds yang ketika itu dikuasai oleh pasukan salib, walaupun beliau meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan hal itu. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Melalui tulisan ini kami ingin melakukan sedikit komparasi antara apa yang terjadi di Mesir sekarang ini dengan apa yang pernah berlaku pada masa Nuruddin Zanki. Sebetulnya perbandingan ini agak terlalu dini dan barangkali tidak sepenuhnya relevan, karena di samping adanya perbedaan-perbedaan waktu, tempat, dan kondisi sosial-politik yang dihadapi oleh kedua tokoh ini, kemenangan Mursy juga masih berada di fase yang sangat awal dan belum diketahui akhirnya. Namun, ada beberapa kesamaan yang membuat kami tertarik untuk merefleksikan fenomena kemenangan Mursy ini pada apa yang pernah terjadi kira-kira 850 tahun yang lalu di kawasan yang hampir sama. Beberapa kesamaan itu terkait dengan suasana zaman serta harapan yang muncul di tengah masyarakat Muslim terkait dengan hadirnya masing-masing figur ini.
Kita akan memulainya dari beberapa kemiripan suasana zaman. Nuruddin Zanki muncul sebagai pemimpin ketika masyarakat Muslim masih relatif terpecah belah.
Para pemimpinnya enggan bersatu dan para ulama sibuk dengan perselisihan mazhab. Dunia Islam yang dihadapi Mursy pada hari ini juga kurang lebih seperti itu. Para pemimpin Arab dan Muslim cenderung bermusuh-musuhan, dan para ulama dan tokoh Islam sibuk dengan perselisihan di antara mereka. Dunia Islam pada masa Nuruddin Zanki terpecah antara Sunni dan Syiah: Abbasiyah yang Sunni di Iraq, Iran, Suriah, dan Jazirah Arab berhadapan dengan Fatimiyah yang berhaluan Syiah Ismailiyah di Mesir.
Dunia Islam pada hari ini juga mengalami polarisasi ini: Mesir, Palestina, Turki, dan Jazirah Arab yang Sunni serta Iran yang berpaham Syiah Itsna Asy’ariah dan kini berada dalam satu kubu dengan Iraq dan Suriah. Perbedaannya adalah, pada masa kemunculan Nuruddin Zanki, Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah mulai melemah, sementara Iran pada hari ini masih memiliki pengaruh yang sangat menonjol di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Zanki dan Mursy sama-sama menghadapi isu yang sangat krusial di dunia Islam, yaitu jatuhnya al-Quds (Yerusalem) ke tangan non-Muslim. Saat Nuruddin Zanki menjadi sultan pada tahun 1146, al-Quds telah dikuasai oleh kekuatan salib Kristen selama 47 tahun.
Kini, ketika Mursy terpilih sebagai presiden Mesir, al-Quds telah dikuasai oleh Zionis Yahudi selama 64 tahun. Kedua tokoh ini, Zanki dan Mursy, sama-sama memiliki visi yang kuat untuk mengembalikan al-Quds ke tangan kaum Muslimin. Mursy merupakan kader al Ikhwan al Muslimun, organisasi yang telah sejak lama mencita-citakan pembebasan al-Quds dari tangan Zionis. Hamas di Palestina yang berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan Israel, lebih memiliki afiliasi khusus dengan Ikhwanul dan bukannya dengan Iran sebagaimana yang disebut-sebut oleh beberapa media. Karena itulah kemenangan Mursy menimbulkan kekhawatiran yang besar di pihak Israel dan memberi harapan lebih besar bagi pembebasan Palestina.
Kepribadian keduanya juga memiliki beberapa kesamaan, setidaknya dalam semangat keagamaan. Nuruddin Zanki merupakan seorang pemimpin yang shalih dan zuhud. Beliau selalu menegakkan shalat berjamaah, melakukan shalat malam, menyintai para ulama, ikut meriwayatkan hadits, dan sangat menjunjung tinggi syariat dan penegakkan keadilan.
Muhammad Mursy juga merupakan seorang yang shalih, hafiz al-Qur’an, dan selalu berusaha menegakkan shalat berjamaah. Bahkan kini setelah menjadi presiden beliau tetap menjalankan kebiasaannya itu dan menjadi imam bagi para pengawal pribadinya (Kompas.com, 28 Juni 2012).
Kehidupan Zanki jauh dari kemewahan, ia tidak mau makan berlebihan, dan ia terbiasa hidup sederhana. Ia tidak memandang kerajaan yang berada di dalam genggamannya sebagai milik atau sumber penghasilannya.
Ketika istrinya mengutus seseorang untuk meminta tambahan uang belanja kepadanya, Nuruddin Zanki menegur dengan kata-kata, “… Seandainya dia berpikir bahwa harta yang berada di tanganku adalah hartaku, sesungguhnya itu adalah pikiran yang salah. Sesungguhnya itu adalah harta Muslimin, dan untuk maslahat Muslimin, dan disiapkan untuk keadaan perang. Aku telah dijadikan penjaganya, dan aku tak akan mengkhianati mereka.”
Mursy juga bukan seorang yang mementingkan kesenangan duniawi. Walaupun ia merupakan seorang doktor bidang teknik lulusan Amerika Serikat, kehidupannya relatif sederhana. Rumahnya berada di luar kota Kairo dan ia mengontrak rumah selama beraktivitas di Kairo. Saat diangkat menjadi presiden, tampaknya ia dan keluarganya merasa enggan untuk pindah dan tinggal di istana kepresidenan.
Kemunculan Nuruddin Zanki dan Mursy pada zaman mereka masing-masing meniupkan suatu harapan baru di tengah dunia Islam, setelah kaum Muslimin tenggelam dalam kemunduran dan kekalahan selama beberapa waktu lamanya. Di masa-masa Perang Salib, harapan itu mulai muncul sejak masa kepemimpinan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, dan menjadi lebih kuat lagi pada masa kepemimpinan Nuruddin Zanki. Harapan ini terlihat jelas, misalnya, pada proses penyatuan Damaskus ke dalam wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki pada tahun 1150-an. Ketika menguasai beberapa wilayah di sekitar Damaskus, Nuruddin Zanki melarang anak buahnya melakukan penjarahan atau kezaliman terhadap penduduk.
Pada suatu hari, ketika Nuruddin Zanki dan pasukannya tiba di wilayah Ba’albek pada pertengahan tahun 1150, tiba-tiba hujan turun selama tiga hari berturut-turut, setelah sekian lama hujan tidak turun di wilayah itu. Orang-orang mengaitkan hal ini dengan kehadiran Nuruddin Zanki dan mengatakan, “Ini semua disebabkan oleh pengaruhnya yang penuh berkah, keadilannya dan perbuatannya yang lurus.” Kini ketika Mursy meraih kemenangan di Mesir, harapan-harapan baru pun muncul di tengah kaum Muslimin di beberapa belahan dunia. Kaum Muslimin di luar Mesir ikut menyambut kemenangan Mursy, seolah-olah sosok ini adalah presidennya juga. Foto-foto serta berita tentang Mursy yang bermunculan di beberapa media sosial, menyiratkan cukup besarnya harapan itu.
Bagaimanapun, Mursy masih berada di fase awal kemenangannya. Nuruddin Zanki sudah melewati zamannya dan telah menutup perjuangannya dengan manis. Mursy masih harus melewati hari-harinya dan sejarah masih akan mencatatnya. Dulu Nuruddin Zanki memulai perjuangannya sebagai sultan di Suriah dan pada akhir masa pemerintahannya berhasil menaklukkan Mesir dan mengakhiri riwayat Dinasti Fatimiyah yang memang sedang sakratul maut. Penyatuan kedua kekuatan ini kemudian membuka jalan bagi Shalahuddin al-Ayyubi pada masa berikutnya untuk membebaskan al-Quds dan Palestina dari tangan pasukan salib.
Kini Mursy mulai memimpin Mesir dan pada saat yang sama Suriah yang dipimpin oleh rezim berlatar Syiah Alawit tengah bergejolak. Semua mata tengah memandang, akankah rezim di Suriah jatuh pada akhirnya dan akankah hal itu membuka jalan bagi dikuasainya kembali al-Quds oleh kaum Muslimin? Banyak yang memiliki harapan seperti ini.
Bagaimanapun, ada beberapa perbedaan yang perlu dicermati. Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah sangat lemah pada masa Nuruddin Zanki dan Nuruddin Zanki tidak masuk ke Mesir melainkan karena dua alasan.
Pertama, karena pasukan salib masuk ke negeri itu atas undangan wazir Mesir dan berusaha menanamkan pengaruhnya di sana.
Kedua, karena khalifah Fatimiyah, yang berseberangan dengan wazirnya, meminta pertolongan kepada Nuruddin Zanki agar ia mengirimkan pasukan untuk membantu mereka. Hal ini disetujui Nuruddin Zanki dengan dikirimkannya Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, beserta pasukannya ke Mesir. Setelah Mesir dikuasai dan Shalahuddin kemudian menjadi pemimpin Mesir, proses perubahan pemerintahan Mesir menjadi Sunni dilakukan secara gradual dan tanpa kekerasan.
Barulah pada masa berikutnya, setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174, Mesir dan Suriah bahu membahu di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dalam melancarkan perjuangan sehingga tercapainya pembebasan al-Quds dan Palestina beberapa tahun berikutnya.
Keadaannya berbeda pada hari ini. Di tengah mulai munculnya kekuatan politik Sunni di Timur Tengah saat ini, kekuatan politik Syiah yang berpusat di Iran juga masih sangat menonjol. Hal ini membuka peluang bagi terjadinya gesekan dan benturan fisik di antara kedua belah pihak yang sebetulnya tidak menguntungkan bagi dunia Islam secara keseluruhan.
Ancaman benturan itu cukup terasa pada pertarungan di Suriah saat ini di mana pemerintahan Sunni pada umumnya berpihak pada masyarakat Suriah dan berusaha menjatuhkan rezim Assad, sementara Iran membela dan berusaha mempertahankan pemerintahan Suriah yang sejak lama telah menjadi sekutunya.
Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat. Masalahnya, jika pada masa Nuruddin Zanki dahulu Fatimiyah menjadi pihak yang bekerja sama dengan kekuatan salib, kini dunia Sunni berada di front yang sama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya. Apa pun alasannya, keadaan ini dapat membawa pada dua konsekuensi: apakah Amerika Serikat yang dimanfaatkan untuk mendongkel rezim Suriah, atau Amerika Serikat dan sekutunya yang memanfaatkan kaum Muslimin untuk berperang satu sama lain dan pada gilirannya akan melanggengkan hegemoninya di Timur Tengah. Ini merupakan keadaan yang mesti disikapi dengan sangat hati-hati. Sebab sejarah sering memberitahu kita bahwa terjadinya kerjasama dengan musuh yang lebih kuat dalam sebuah konflik internal bukanlah pertanda yang bagus bagi independensi suatu masyarakat dari penjajahan.
Perjalanan Mursy dan Mesir masih cukup panjang. Kita pun tidak kehilangan harapan dan optimisme bahwa ini merupakan awal dari kemenangan dunia Islam serta pembebasan al-Quds. Harapan itu akan tetap ada, selama jalan-Nya tetap diikuti dan keridhaan serta pertolongan-Nya masih tetap menaungi umat ini.*/Singapura, 15 Sha’ban 1433/ 5 Juli 2012
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia
http://hidayatullah.com/read/23495/05/07/2012/mursy,-zanki,-dan-harapan-kebangkitan-islam.html
Kamis, 05 Juli 2012
Oleh: Alwi Alatas
TERPILIHNYA Dr. Muhammad Mursy sebagai Presiden Mesir memberikan ruh dan gairah baru di negeri yang selama beberapa dekade dipimpin oleh diktator itu. Fenomena terpilihnya Mursy tidak hanya menarik dan berkesan bagi masyarakat Mesir atau komunitas di kawasan Timur Tengah semata, tetapi juga bagi masyarakat dunia pada umumnya. Kemenangan Mursy ikut dirasakan sebagai kemenangan, atau setidaknya sebagai sebuah contoh yang bisa diambil sebagai pelajaran, oleh banyak orang di negeri-negeri lainnya.
Editorial Media Indonesia pada hari Rabu, 27 Juni 2012, misalnya, mengangkat tema ‘Belajar dari Mursy’. Harian tersebut menyebutkan bahwa pidato yang dibawakan oleh Dr. Mursy melegakan semua pihak dan ia menyatakan siap menjadi pemimpin bagi semua warga Mesir. Mursy juga tidak menganggap dirinya sebagai penguasa, tetapi masyarakatlah yang merupakan penguasa, sebuah pesan yang perlu diambil pelajaran oleh para pemimpin di Tanah Air.
Sementara banyak pembaca yang tentunya telah mengetahui tentang Muhammad Mursy, karena berita tentang beliau banyak menghiasi media massa belakangan ini, mungkin banyak yang belum mengetahui tentang Nuruddin Zanki (1118-1174), tokoh yang juga hendak diangkat di dalam tulisan ini. Berikut ini merupakan informasi ringkas tentang Nuruddin Zanki. Beliau merupakan seorang keturunan Turki Saljuk yang menjadi sultan di Suriah menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1146. Beliau memimpin wilayah tersebut pada masa Perang Salib II dan setelahnya.
Proses penyatuan wilayah Muslim di Suriah dan sekitarnya serta proses Islamisasi wilayah tersebut dapat dikatakan dimulai oleh tokoh ini, setelah sebelumnya kaum Muslimin berpecah belah dan sibuk dengan perselisihan mazhab dan politik. Pada akhir masa pemerintahannya, ia mengutus Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, untuk masuk ke Mesir yang kemudian berlanjut dengan proses penghapusan Dinasti Fatimiyah oleh Shalahuddin. Nuruddin juga membangun visi yang kuat untuk membebaskan al-Quds yang ketika itu dikuasai oleh pasukan salib, walaupun beliau meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan hal itu. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Melalui tulisan ini kami ingin melakukan sedikit komparasi antara apa yang terjadi di Mesir sekarang ini dengan apa yang pernah berlaku pada masa Nuruddin Zanki. Sebetulnya perbandingan ini agak terlalu dini dan barangkali tidak sepenuhnya relevan, karena di samping adanya perbedaan-perbedaan waktu, tempat, dan kondisi sosial-politik yang dihadapi oleh kedua tokoh ini, kemenangan Mursy juga masih berada di fase yang sangat awal dan belum diketahui akhirnya. Namun, ada beberapa kesamaan yang membuat kami tertarik untuk merefleksikan fenomena kemenangan Mursy ini pada apa yang pernah terjadi kira-kira 850 tahun yang lalu di kawasan yang hampir sama. Beberapa kesamaan itu terkait dengan suasana zaman serta harapan yang muncul di tengah masyarakat Muslim terkait dengan hadirnya masing-masing figur ini.
Kita akan memulainya dari beberapa kemiripan suasana zaman. Nuruddin Zanki muncul sebagai pemimpin ketika masyarakat Muslim masih relatif terpecah belah.
Para pemimpinnya enggan bersatu dan para ulama sibuk dengan perselisihan mazhab. Dunia Islam yang dihadapi Mursy pada hari ini juga kurang lebih seperti itu. Para pemimpin Arab dan Muslim cenderung bermusuh-musuhan, dan para ulama dan tokoh Islam sibuk dengan perselisihan di antara mereka. Dunia Islam pada masa Nuruddin Zanki terpecah antara Sunni dan Syiah: Abbasiyah yang Sunni di Iraq, Iran, Suriah, dan Jazirah Arab berhadapan dengan Fatimiyah yang berhaluan Syiah Ismailiyah di Mesir.
Dunia Islam pada hari ini juga mengalami polarisasi ini: Mesir, Palestina, Turki, dan Jazirah Arab yang Sunni serta Iran yang berpaham Syiah Itsna Asy’ariah dan kini berada dalam satu kubu dengan Iraq dan Suriah. Perbedaannya adalah, pada masa kemunculan Nuruddin Zanki, Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah mulai melemah, sementara Iran pada hari ini masih memiliki pengaruh yang sangat menonjol di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Zanki dan Mursy sama-sama menghadapi isu yang sangat krusial di dunia Islam, yaitu jatuhnya al-Quds (Yerusalem) ke tangan non-Muslim. Saat Nuruddin Zanki menjadi sultan pada tahun 1146, al-Quds telah dikuasai oleh kekuatan salib Kristen selama 47 tahun.
Kini, ketika Mursy terpilih sebagai presiden Mesir, al-Quds telah dikuasai oleh Zionis Yahudi selama 64 tahun. Kedua tokoh ini, Zanki dan Mursy, sama-sama memiliki visi yang kuat untuk mengembalikan al-Quds ke tangan kaum Muslimin. Mursy merupakan kader al Ikhwan al Muslimun, organisasi yang telah sejak lama mencita-citakan pembebasan al-Quds dari tangan Zionis. Hamas di Palestina yang berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan Israel, lebih memiliki afiliasi khusus dengan Ikhwanul dan bukannya dengan Iran sebagaimana yang disebut-sebut oleh beberapa media. Karena itulah kemenangan Mursy menimbulkan kekhawatiran yang besar di pihak Israel dan memberi harapan lebih besar bagi pembebasan Palestina.
Kepribadian keduanya juga memiliki beberapa kesamaan, setidaknya dalam semangat keagamaan. Nuruddin Zanki merupakan seorang pemimpin yang shalih dan zuhud. Beliau selalu menegakkan shalat berjamaah, melakukan shalat malam, menyintai para ulama, ikut meriwayatkan hadits, dan sangat menjunjung tinggi syariat dan penegakkan keadilan.
Muhammad Mursy juga merupakan seorang yang shalih, hafiz al-Qur’an, dan selalu berusaha menegakkan shalat berjamaah. Bahkan kini setelah menjadi presiden beliau tetap menjalankan kebiasaannya itu dan menjadi imam bagi para pengawal pribadinya (Kompas.com, 28 Juni 2012).
Kehidupan Zanki jauh dari kemewahan, ia tidak mau makan berlebihan, dan ia terbiasa hidup sederhana. Ia tidak memandang kerajaan yang berada di dalam genggamannya sebagai milik atau sumber penghasilannya.
Ketika istrinya mengutus seseorang untuk meminta tambahan uang belanja kepadanya, Nuruddin Zanki menegur dengan kata-kata, “… Seandainya dia berpikir bahwa harta yang berada di tanganku adalah hartaku, sesungguhnya itu adalah pikiran yang salah. Sesungguhnya itu adalah harta Muslimin, dan untuk maslahat Muslimin, dan disiapkan untuk keadaan perang. Aku telah dijadikan penjaganya, dan aku tak akan mengkhianati mereka.”
Mursy juga bukan seorang yang mementingkan kesenangan duniawi. Walaupun ia merupakan seorang doktor bidang teknik lulusan Amerika Serikat, kehidupannya relatif sederhana. Rumahnya berada di luar kota Kairo dan ia mengontrak rumah selama beraktivitas di Kairo. Saat diangkat menjadi presiden, tampaknya ia dan keluarganya merasa enggan untuk pindah dan tinggal di istana kepresidenan.
Kemunculan Nuruddin Zanki dan Mursy pada zaman mereka masing-masing meniupkan suatu harapan baru di tengah dunia Islam, setelah kaum Muslimin tenggelam dalam kemunduran dan kekalahan selama beberapa waktu lamanya. Di masa-masa Perang Salib, harapan itu mulai muncul sejak masa kepemimpinan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, dan menjadi lebih kuat lagi pada masa kepemimpinan Nuruddin Zanki. Harapan ini terlihat jelas, misalnya, pada proses penyatuan Damaskus ke dalam wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki pada tahun 1150-an. Ketika menguasai beberapa wilayah di sekitar Damaskus, Nuruddin Zanki melarang anak buahnya melakukan penjarahan atau kezaliman terhadap penduduk.
Pada suatu hari, ketika Nuruddin Zanki dan pasukannya tiba di wilayah Ba’albek pada pertengahan tahun 1150, tiba-tiba hujan turun selama tiga hari berturut-turut, setelah sekian lama hujan tidak turun di wilayah itu. Orang-orang mengaitkan hal ini dengan kehadiran Nuruddin Zanki dan mengatakan, “Ini semua disebabkan oleh pengaruhnya yang penuh berkah, keadilannya dan perbuatannya yang lurus.” Kini ketika Mursy meraih kemenangan di Mesir, harapan-harapan baru pun muncul di tengah kaum Muslimin di beberapa belahan dunia. Kaum Muslimin di luar Mesir ikut menyambut kemenangan Mursy, seolah-olah sosok ini adalah presidennya juga. Foto-foto serta berita tentang Mursy yang bermunculan di beberapa media sosial, menyiratkan cukup besarnya harapan itu.
Bagaimanapun, Mursy masih berada di fase awal kemenangannya. Nuruddin Zanki sudah melewati zamannya dan telah menutup perjuangannya dengan manis. Mursy masih harus melewati hari-harinya dan sejarah masih akan mencatatnya. Dulu Nuruddin Zanki memulai perjuangannya sebagai sultan di Suriah dan pada akhir masa pemerintahannya berhasil menaklukkan Mesir dan mengakhiri riwayat Dinasti Fatimiyah yang memang sedang sakratul maut. Penyatuan kedua kekuatan ini kemudian membuka jalan bagi Shalahuddin al-Ayyubi pada masa berikutnya untuk membebaskan al-Quds dan Palestina dari tangan pasukan salib.
Kini Mursy mulai memimpin Mesir dan pada saat yang sama Suriah yang dipimpin oleh rezim berlatar Syiah Alawit tengah bergejolak. Semua mata tengah memandang, akankah rezim di Suriah jatuh pada akhirnya dan akankah hal itu membuka jalan bagi dikuasainya kembali al-Quds oleh kaum Muslimin? Banyak yang memiliki harapan seperti ini.
Bagaimanapun, ada beberapa perbedaan yang perlu dicermati. Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah sangat lemah pada masa Nuruddin Zanki dan Nuruddin Zanki tidak masuk ke Mesir melainkan karena dua alasan.
Pertama, karena pasukan salib masuk ke negeri itu atas undangan wazir Mesir dan berusaha menanamkan pengaruhnya di sana.
Kedua, karena khalifah Fatimiyah, yang berseberangan dengan wazirnya, meminta pertolongan kepada Nuruddin Zanki agar ia mengirimkan pasukan untuk membantu mereka. Hal ini disetujui Nuruddin Zanki dengan dikirimkannya Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, beserta pasukannya ke Mesir. Setelah Mesir dikuasai dan Shalahuddin kemudian menjadi pemimpin Mesir, proses perubahan pemerintahan Mesir menjadi Sunni dilakukan secara gradual dan tanpa kekerasan.
Barulah pada masa berikutnya, setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174, Mesir dan Suriah bahu membahu di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi dalam melancarkan perjuangan sehingga tercapainya pembebasan al-Quds dan Palestina beberapa tahun berikutnya.
Keadaannya berbeda pada hari ini. Di tengah mulai munculnya kekuatan politik Sunni di Timur Tengah saat ini, kekuatan politik Syiah yang berpusat di Iran juga masih sangat menonjol. Hal ini membuka peluang bagi terjadinya gesekan dan benturan fisik di antara kedua belah pihak yang sebetulnya tidak menguntungkan bagi dunia Islam secara keseluruhan.
Ancaman benturan itu cukup terasa pada pertarungan di Suriah saat ini di mana pemerintahan Sunni pada umumnya berpihak pada masyarakat Suriah dan berusaha menjatuhkan rezim Assad, sementara Iran membela dan berusaha mempertahankan pemerintahan Suriah yang sejak lama telah menjadi sekutunya.
Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat. Masalahnya, jika pada masa Nuruddin Zanki dahulu Fatimiyah menjadi pihak yang bekerja sama dengan kekuatan salib, kini dunia Sunni berada di front yang sama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya. Apa pun alasannya, keadaan ini dapat membawa pada dua konsekuensi: apakah Amerika Serikat yang dimanfaatkan untuk mendongkel rezim Suriah, atau Amerika Serikat dan sekutunya yang memanfaatkan kaum Muslimin untuk berperang satu sama lain dan pada gilirannya akan melanggengkan hegemoninya di Timur Tengah. Ini merupakan keadaan yang mesti disikapi dengan sangat hati-hati. Sebab sejarah sering memberitahu kita bahwa terjadinya kerjasama dengan musuh yang lebih kuat dalam sebuah konflik internal bukanlah pertanda yang bagus bagi independensi suatu masyarakat dari penjajahan.
Perjalanan Mursy dan Mesir masih cukup panjang. Kita pun tidak kehilangan harapan dan optimisme bahwa ini merupakan awal dari kemenangan dunia Islam serta pembebasan al-Quds. Harapan itu akan tetap ada, selama jalan-Nya tetap diikuti dan keridhaan serta pertolongan-Nya masih tetap menaungi umat ini.*/Singapura, 15 Sha’ban 1433/ 5 Juli 2012
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia
http://hidayatullah.com/read/23495/05/07/2012/mursy,-zanki,-dan-harapan-kebangkitan-islam.html
Tuesday, July 3, 2012
Nuruddin Zanki-Bagian 2-Republika
Nuruddin Mahmud Zanki: Raja Adil, Cahaya Agama (Bag 2)
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 19:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Kegagalan dua kerajaan Barat itu dimanfaatkan Nuruddin untuk melancarkan serangan ke tepi timur Orontes pada tahun 1149. Serangan itu dilakukan untuk menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Pangeran Antiokhia, Raymond dari Poitiers, membantu membantu Istana Inab yang diserang oleh Nuruddin.
Dalam sebuah pertempuran yang hebat, tentara Muslim berhasil membuat pasukan Tentara Salib bertekuk lutut. Pangeran Antiokia bernama Raymond pun terbunuh dalam perang itu. Pasukan tentara Nuruddin pun berhasil merebut seluruh wilayah Antiokhia.
Nuruddin memiliki cita-cita yang luhur dan mulia. Ia ingin menyatukan pasukan tentara Muslim, mulai dari Sungai Eufrat hingga Nil untuk melawan Tentara Salib. Pada 1149, kakaknya tutup usia.tahta kerajaan di Mosul dilanjutkan oleh adiknya, Qutbuddin. Namun Qutbuddin menyerahkan kekuasaannya kepada Nuruddin, sehingga kerjaan tersebut menjadi satu seperti ketika di bawah kepemimpinan ayah mereka.
Pada 1150 dan 1151 Nuruddin berupaya menyerang Damaskus, karena ternyata Mu’inuddin melakukan perjanjian dengan Tentara Salib. Namun ia gagal menguasai Damaskus. Setelah melakukan berbagai upaya militer, akhirnya pada 1154, ia akhirnya dapat merebut Damaskus di bawah kepemimpinan Mujiruddin, penerus Mu’inuddin.
Damaskus menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Zanki dan seluruh Suriah disatukan di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, mulai dari Edessa di utara hingga Hauran di selatan. Pada 1157, Nuruddin menyerang Ksatria Hospitaller di benteng Tentara Salib di Banias dan membuat mereka kocar-kacir.
Ada kisah menarik dari kehidupan Nuruddin. Saat itu, ia melaksanakan ibadah haji, ia berhasil menggagalkan usaha dua orang Yahudi yang menggali terowongan menuju makam Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut mereka lakukan untuk mencuri jasad Rasulullah agar dapat merendahkan martabat dan menghina umat islam.
Pada 562 Hijirah, Nuruddin menugaskan Salahuddin dan pamannya, Syirkuh, memimpin pasukan untuk melawan Pasukan Salib di Mesir. Pada saat itu terjadi perseteruan antara panglima Dargham dan menteri Syawur yang berkuasa di Dinasti Fatimiyah di Mesir. Satu pihak meminta bantuan pada Pasukan Salib, yang lain meminta bantuan pada Kesultanan Syam. Maka pertempuran antara pasukan Nuruddin dan Tentara Salib pun tak dapat terelakkan.
Usaha untuk menguasai Mesir baru tercapai dua tahun kemudian, ketika Nuruddin berhasil meringkus menteri Syawur yang bersekongkol dengan Tentara Salib. Lebih dari 50 kota berhasil direbut oleh Nuruddin, kecuali Al-Quds. Setelah menaklukkan Mesir, Nuruddin meyakini bahwa tujuannya mempersatukan Negara Muslim telah tercapai.
Namun terjadilah kesalahpahaman antara Nuruddin dan Salahuddin. Saat itu Nuruddin ingin mengepung kota Al-Kurk. Ia menyurati Salahuddin untuk mengirim pasukan ke tempat yang disepakati. Salahuddin pun berangkat ke tempat tersebut. Namun ia menyadari Mesir akan menjadi tidak aman apabila ditinggalkan.
Salahudin pun mengirimkan surat permintaan maaf kepada Nuruddin dan kembali ke Mesir. Hal ini membuat Nuruddin marah dan berniat untuk menyerang Salahuddin di Mesir. Akibatnya, Salahuddin akhirnya menyatakan ketundukannya atas Nuruddin dan Nuruddin membatalkan serangannya.
Nuruddin meninggal akibat komplikasi penyempitan pada tenggorokan. Ia wafat pada usia ke-59. Putranya, As-Salih Ismail Al-Malik menjadi pemimpin pengganti ayahnya. Perjuangan Nuruddin melawan Tentara Salib dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: friska yolandha
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7rp-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-2
Koreksi:
Raymond dan pasukannya terbunuh oleh pasukan Nuruddin pada pertempuran di tahun 1149, tapi wilayah Antiokhia tidak jatuh ke tangan Nuruddin. Antiokhia merupakan wilayah yang berhasil dipertahankan oleh pasukan salib untuk waktu yang lama dan belum jatuh ke tangan Muslim pada masa Nuruddin Zanki ataupun Shalahuddin al-Ayyubi. Wilayah ini baru jatuh pada masa Dinasti Mamluk, tahun 1268.
Tidak pernah terjadi konflik antara Nuruddin Zanki dan Mu’inuddin Unur. Nuruddin Zanki baru berusaha menaklukkan Damaskus, karena alasan yang disebutkan di artikel, setelah wafatnya Mu’inuddin Unur pada tahun 1149.
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 19:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Kegagalan dua kerajaan Barat itu dimanfaatkan Nuruddin untuk melancarkan serangan ke tepi timur Orontes pada tahun 1149. Serangan itu dilakukan untuk menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Pangeran Antiokhia, Raymond dari Poitiers, membantu membantu Istana Inab yang diserang oleh Nuruddin.
Dalam sebuah pertempuran yang hebat, tentara Muslim berhasil membuat pasukan Tentara Salib bertekuk lutut. Pangeran Antiokia bernama Raymond pun terbunuh dalam perang itu. Pasukan tentara Nuruddin pun berhasil merebut seluruh wilayah Antiokhia.
Nuruddin memiliki cita-cita yang luhur dan mulia. Ia ingin menyatukan pasukan tentara Muslim, mulai dari Sungai Eufrat hingga Nil untuk melawan Tentara Salib. Pada 1149, kakaknya tutup usia.tahta kerajaan di Mosul dilanjutkan oleh adiknya, Qutbuddin. Namun Qutbuddin menyerahkan kekuasaannya kepada Nuruddin, sehingga kerjaan tersebut menjadi satu seperti ketika di bawah kepemimpinan ayah mereka.
Pada 1150 dan 1151 Nuruddin berupaya menyerang Damaskus, karena ternyata Mu’inuddin melakukan perjanjian dengan Tentara Salib. Namun ia gagal menguasai Damaskus. Setelah melakukan berbagai upaya militer, akhirnya pada 1154, ia akhirnya dapat merebut Damaskus di bawah kepemimpinan Mujiruddin, penerus Mu’inuddin.
Damaskus menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Zanki dan seluruh Suriah disatukan di bawah kepemimpinan Nuruddin Zanki, mulai dari Edessa di utara hingga Hauran di selatan. Pada 1157, Nuruddin menyerang Ksatria Hospitaller di benteng Tentara Salib di Banias dan membuat mereka kocar-kacir.
Ada kisah menarik dari kehidupan Nuruddin. Saat itu, ia melaksanakan ibadah haji, ia berhasil menggagalkan usaha dua orang Yahudi yang menggali terowongan menuju makam Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut mereka lakukan untuk mencuri jasad Rasulullah agar dapat merendahkan martabat dan menghina umat islam.
Pada 562 Hijirah, Nuruddin menugaskan Salahuddin dan pamannya, Syirkuh, memimpin pasukan untuk melawan Pasukan Salib di Mesir. Pada saat itu terjadi perseteruan antara panglima Dargham dan menteri Syawur yang berkuasa di Dinasti Fatimiyah di Mesir. Satu pihak meminta bantuan pada Pasukan Salib, yang lain meminta bantuan pada Kesultanan Syam. Maka pertempuran antara pasukan Nuruddin dan Tentara Salib pun tak dapat terelakkan.
Usaha untuk menguasai Mesir baru tercapai dua tahun kemudian, ketika Nuruddin berhasil meringkus menteri Syawur yang bersekongkol dengan Tentara Salib. Lebih dari 50 kota berhasil direbut oleh Nuruddin, kecuali Al-Quds. Setelah menaklukkan Mesir, Nuruddin meyakini bahwa tujuannya mempersatukan Negara Muslim telah tercapai.
Namun terjadilah kesalahpahaman antara Nuruddin dan Salahuddin. Saat itu Nuruddin ingin mengepung kota Al-Kurk. Ia menyurati Salahuddin untuk mengirim pasukan ke tempat yang disepakati. Salahuddin pun berangkat ke tempat tersebut. Namun ia menyadari Mesir akan menjadi tidak aman apabila ditinggalkan.
Salahudin pun mengirimkan surat permintaan maaf kepada Nuruddin dan kembali ke Mesir. Hal ini membuat Nuruddin marah dan berniat untuk menyerang Salahuddin di Mesir. Akibatnya, Salahuddin akhirnya menyatakan ketundukannya atas Nuruddin dan Nuruddin membatalkan serangannya.
Nuruddin meninggal akibat komplikasi penyempitan pada tenggorokan. Ia wafat pada usia ke-59. Putranya, As-Salih Ismail Al-Malik menjadi pemimpin pengganti ayahnya. Perjuangan Nuruddin melawan Tentara Salib dilanjutkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: friska yolandha
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7rp-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-2
Koreksi:
Raymond dan pasukannya terbunuh oleh pasukan Nuruddin pada pertempuran di tahun 1149, tapi wilayah Antiokhia tidak jatuh ke tangan Nuruddin. Antiokhia merupakan wilayah yang berhasil dipertahankan oleh pasukan salib untuk waktu yang lama dan belum jatuh ke tangan Muslim pada masa Nuruddin Zanki ataupun Shalahuddin al-Ayyubi. Wilayah ini baru jatuh pada masa Dinasti Mamluk, tahun 1268.
Tidak pernah terjadi konflik antara Nuruddin Zanki dan Mu’inuddin Unur. Nuruddin Zanki baru berusaha menaklukkan Damaskus, karena alasan yang disebutkan di artikel, setelah wafatnya Mu’inuddin Unur pada tahun 1149.
Nuruddin Mahmud Zanki-Bagian I-Republika
Nuruddin Mahmud Zanki: Raja Adil, Cahaya Agama (Bag 1)
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 18:44 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ia adalah seorang raja dan pemimpin yang zuhud. Makanan yang dikonsumsinya tak lebih baik dari hidangan orang paling miskin pada zaman itu.
Umat Islam lebih mengenal sosok Salahuddin Al-Ayubi, sebagai pemimpin tentara Muslim dalam Perang Salib. Padahal, di era Perang Salib II, dunia Islam juga memiliki sosok pejuang dan pemimpin yang tak kalah hebatnya dibanding Salahudin. Tokoh pembela agama itu dikenal dengan nama Nuruddin Zanki.
‘’Nuruddin merupakan seorang yang sangat berjasa dalam penyatuan negara-negara muslim dan penakluk tentara salib dalam Perang Salib Kedua,’’ ujar Syekh Muhammad Said Mursi dalam bukunya Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Ia dikenal sebagai seorang tentara pejuang yang menguasai teknik berperang, hingga mampu memukul mundur pasukan Tentara Salib.
Sejatinya, Nuruddin Mahmud Zanki memiliki nama lengkap Al-Malik Al-Adil Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin Imaduddin Zanki. Dalam darahnya mengalir ningrat dari Dinasti Zanki yang menguasai Suriah pada 1146 M hingga 1174 M. . ‘’Nama panggilannya adalah Abu Qasim dan ia dijuluki Nuruddin (Cahaya Agama) dan raja yang adil,’’ tutur Syekh Said Mursi.
Ayahnya bernama Imaduddin Zanki, penguasa Aleppo dan Mosul. Ketika ayahnya meninggal dunia, Nuruddin dan kakaknya, Saifuddin Ghazi I, membagi Kerajaan Zanki tersebut menjadi dua. Nuruddin menguasai Aleppo dan kakaknya menguasai Mosul. Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh sungai Khabur.
Tak lama setelah menduduki tahta raja, Nuruddin memperluas wilayah kekuasaannya dan berhasil menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Ia dan pasukannya merebut beberapa istana di bagian utara Suriah. Pasukan yang dipimpin Nuruddin juga berhasil mematahkan serangan Joscelin II yang berupaya mencaplok Kerajaan Edessa, salah satu daerah kekuasaan Nuruddin.
Ia terpaksa harus mengusir seluruh populasi Kristen dari kota tersebut sebagai hukuman karena mereka bersekutu dan membantu pasukan Jocelin II. Peristiwa itu terjadi pada Perang Salib I. Pada 1147, Nuruddin menandatangani perjanjian bilateral dengan Gubernur Damaskus, Mu’inuddin Unur.
Kebijakan itu dilakukannya untuk memperkuat hubungan dengan negeri tetangga di utara agar dapat melawan musuh mereka di Barat. Sebagai bagian dari kerja sama, ia menikahi anak perempuan sang gubernur. Setelah keduanya membangun aliansi, mereka menyerang kota Bosra dan Sarkhand. Kedua kota tersebut direbut oleh pengikut Mu’inuddin yang memberontak.
Lantaran gagal merebut Kerajaan Edessa pada Perang Salib I, kerajaan-kerajaan Kristen dari Barat mulai melancarkan misi militer lewat Perang Salib II. Adalah Raja Prancis Louis VII, dan Raja Jerman Conrad III adalah tokoh yang memantik meletusnya Perang Salib II. Mereka berambisi untuk kembali merebut wilayah yang telah ditaklukkan pasukan tentara Muslim.
Namun, upaya mereka untuk menguasai wilayah Kristen di Suriah tak berjalan mulus. Pasukan Tentara Salib dihadapkan pada kekuatan militer tangguh yang dipimpin Nuruddin. Ambisi Raja Louis VII dan Conrad III pun tak kesampaian. Mereka gagal merebut Damaskus.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Friska Yolandha
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7a6-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-1
Koreksi: Edessa termasuk kerajaan pertama yang berhasil direbut oleh pasukan salib pada Perang Salib I. Terjadinya Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kembali kerajaan itu ke tangan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, pada tahun 1144.
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 18:44 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ia adalah seorang raja dan pemimpin yang zuhud. Makanan yang dikonsumsinya tak lebih baik dari hidangan orang paling miskin pada zaman itu.
Umat Islam lebih mengenal sosok Salahuddin Al-Ayubi, sebagai pemimpin tentara Muslim dalam Perang Salib. Padahal, di era Perang Salib II, dunia Islam juga memiliki sosok pejuang dan pemimpin yang tak kalah hebatnya dibanding Salahudin. Tokoh pembela agama itu dikenal dengan nama Nuruddin Zanki.
‘’Nuruddin merupakan seorang yang sangat berjasa dalam penyatuan negara-negara muslim dan penakluk tentara salib dalam Perang Salib Kedua,’’ ujar Syekh Muhammad Said Mursi dalam bukunya Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Ia dikenal sebagai seorang tentara pejuang yang menguasai teknik berperang, hingga mampu memukul mundur pasukan Tentara Salib.
Sejatinya, Nuruddin Mahmud Zanki memiliki nama lengkap Al-Malik Al-Adil Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin Imaduddin Zanki. Dalam darahnya mengalir ningrat dari Dinasti Zanki yang menguasai Suriah pada 1146 M hingga 1174 M. . ‘’Nama panggilannya adalah Abu Qasim dan ia dijuluki Nuruddin (Cahaya Agama) dan raja yang adil,’’ tutur Syekh Said Mursi.
Ayahnya bernama Imaduddin Zanki, penguasa Aleppo dan Mosul. Ketika ayahnya meninggal dunia, Nuruddin dan kakaknya, Saifuddin Ghazi I, membagi Kerajaan Zanki tersebut menjadi dua. Nuruddin menguasai Aleppo dan kakaknya menguasai Mosul. Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh sungai Khabur.
Tak lama setelah menduduki tahta raja, Nuruddin memperluas wilayah kekuasaannya dan berhasil menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Ia dan pasukannya merebut beberapa istana di bagian utara Suriah. Pasukan yang dipimpin Nuruddin juga berhasil mematahkan serangan Joscelin II yang berupaya mencaplok Kerajaan Edessa, salah satu daerah kekuasaan Nuruddin.
Ia terpaksa harus mengusir seluruh populasi Kristen dari kota tersebut sebagai hukuman karena mereka bersekutu dan membantu pasukan Jocelin II. Peristiwa itu terjadi pada Perang Salib I. Pada 1147, Nuruddin menandatangani perjanjian bilateral dengan Gubernur Damaskus, Mu’inuddin Unur.
Kebijakan itu dilakukannya untuk memperkuat hubungan dengan negeri tetangga di utara agar dapat melawan musuh mereka di Barat. Sebagai bagian dari kerja sama, ia menikahi anak perempuan sang gubernur. Setelah keduanya membangun aliansi, mereka menyerang kota Bosra dan Sarkhand. Kedua kota tersebut direbut oleh pengikut Mu’inuddin yang memberontak.
Lantaran gagal merebut Kerajaan Edessa pada Perang Salib I, kerajaan-kerajaan Kristen dari Barat mulai melancarkan misi militer lewat Perang Salib II. Adalah Raja Prancis Louis VII, dan Raja Jerman Conrad III adalah tokoh yang memantik meletusnya Perang Salib II. Mereka berambisi untuk kembali merebut wilayah yang telah ditaklukkan pasukan tentara Muslim.
Namun, upaya mereka untuk menguasai wilayah Kristen di Suriah tak berjalan mulus. Pasukan Tentara Salib dihadapkan pada kekuatan militer tangguh yang dipimpin Nuruddin. Ambisi Raja Louis VII dan Conrad III pun tak kesampaian. Mereka gagal merebut Damaskus.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Friska Yolandha
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7a6-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-1
Koreksi: Edessa termasuk kerajaan pertama yang berhasil direbut oleh pasukan salib pada Perang Salib I. Terjadinya Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kembali kerajaan itu ke tangan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, pada tahun 1144.
Labels:
Aleppo,
Conrad III,
Damaskus,
Edessa,
Louis VII,
Mosul,
Mu'inuddin Unur,
Nuruddin Mahmud Zanki,
Nuruddin Zanki,
Perang Salib,
Perang Salib I,
Perang Salib II,
Saifuddin Ghazi,
Suriah
Monday, July 2, 2012
Buku Baru
Sudah terbit di Indonesia:
Judul: Nuruddin Zanki dan Perang Salib
Penulis: Alwi Alatas
Penerbit: Zikrul Hakim (Jakarta)
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 441 halaman
Harga: Rp. 70.000,00
Subscribe to:
Posts (Atom)





