Showing posts with label Perang Salib. Show all posts
Showing posts with label Perang Salib. Show all posts

Sunday, September 15, 2013

Nuruddin Zanki dan Perang Salib - Resensi Penaaksi

13 September 20130 comments

Oleh : Putri Larasati

I. Identitas Buku :

Judul Buku : Nuruddin Zanki dan Perang Salib
Penulis : Alwi Alatas
Genre : Nonfiksi
Terbit : Cetakan I, Mei 2012
Halaman : 448 halaman
Penerbit : Zikrul Hakim
Harga : ???
ISBN : ISBN 978-979-063-735-1

II. Latar Belakang Penulis

Alwi Alatas merupakan seorang penulis yang telah menerbitkan lebih dari dua puluh buku dalam berbagai bidang. Beberapa di antaranya merupakan buku best-seller di Malaysia. Saat ini ia lebih banyak tinggal di Malaysia karena masih menyelesaikan studinya di bidang Sejarah pada International Islamic University Malaysia (IIUM). Komunikasi dengan beliau bisa melalui alamat e-mail (alwialatas@gmail.com) dan (alwialatas@yahoo.com)

III. Pokok-pokok Isi Buku

-Tema: Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Perang Salib
-Tokoh dan Perwatakan:

•Nuruddin Mahmud bin Zanki: berperawakan tinggi, berkulit coklat, memiliki mata yang indah, berpipi lapang, saleh, disiplin, teratur, terampil berkuda, sederhana.
Paus Urbanus: idealis, orang yang berpengaruh.
Kilij Arslan: sangat taktis.
Alexius Comnenus: memiliki citra yang buruk.
Peter si Pertapa: antusias, agresif, populer, sederhana, dipandang sebagai orang yang suci.
Godfrey of Bouillon: gagah, keras kepala.
Bohemond of Taranto: tangguh, pemimpin yang kuat, paling terlatih
Dan lain-lain


-Alur: campuran
-Sudut Pandang: orang ketiga
-Latar:
• Tempat: Eropa dan Asia
• Waktu: Sebelum abad ke-14
• Suasana: peperangan

IV. Ringkasan Cerita

Perang Salib merupakan perang suci yang diserukan oleh Gereja Katolik untuk membebaskan Yerusalem dan tanah suci di sekitarnya ataupun untuk memerangi musuh-musuh gereja, seperti kaum bid’ah (heretic) dan lainnya. Biasanya ia bermula dengan pidato dan seruan Paus Katolik. Perang Salib biasanya mengangkat sumpah, mengambil simbol salib dan meletakkannya pada baju mereka. Kepada mereka yang menyertai Perang Salib, gereja menjanjikan pengampunan dosa.

Perang Salib I diserukan oleh Paus Urbanus II (w. 1099) dalam sidang gereja di Clermont, Perancis, pada November 1095. Hal itu dilakukan setelah adanya permintaan bantuan dari Kaisar Byzantium untuk menghadapi orang-orang Turki di Asia Minor dan Syria. Pidato Paus mendapat sambutan yang luar biasa dan mendorong ribuan orang untuk menyertai Perang Salib.
Angkatan pertama PerangSalib I bergerak dari Perancis dan Jerman pada awal tahun 1096. Mereka terdiri dari masyarakat jelata dan dipimpin oleh seorang pendeta bernama Peter si Pertapa. Setelah beberapa kali konflik dengan penduduk Bulgaria dan Byzantium serta melakukan penjarahan selama di perjalanan, pasukan yang tidak berpengalaman ini akhirnya dihancurkan oleh pasukan Kilij Arslan (w. 1107) di Asia Minor. Angkatan pertama ini dikenal sebagai People’s Crusade atau Popular Crusade.
Rombongan berikutnya yang berangkat pada paruh kedua tahun 1096 terdiri dari pasukan yang lebih terlatih dan dipimpin oleh banyak bangsawan Perancis dan Norman, seperti Raymond of Saint-Gilles (w. 1105), Godfrey de Bouillon (d. 1100), Baldwin (w. 1118), Bohemond of Taranto (d. 1111), dan Tranced (w. 1112). Pasukan ini berhasil mengambil alih Nicaea (Iznik) dari tangan Kilij Arslan pada Juni 1097, Antioch pada Juni 1098, Yerusalem pada Juli 1099, serta beberapa kota Muslim lainnya di Syiria dan Palestina.
Keberhasilan pasukan Salib dalam Perang Salib pertama ini kemudian melahirkan Kerajaan Latin (Latin Kingdom) yang berpusat di Yerusalem. Kerajaan ini memiliki empat propinsi utama, yaitu Yerusalem, Tripoli, Antioch, dan Edessa. Wilayah kekuasaan orang-orang Frank di Syria dan Palestina dikenal oleh orang-orang di Eropa Barat (Romawi Barat) sebagai Outremer ‘(tanah) di seberang lautan.’

Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya Edessa ke tangan Imaduddin Zanki (w. 1146) pada tahun 1144. Perang ini diserukan oleh Paus Eugenius III (w. 1153) sejak Desember 1145. Paus kemudian menunjuk Bernard of Clairvaux (1090-1153) untuk mengkampanyekan Perang Salib. Kampanye ini sangat berhasil, hingga ribuan orang bersumpah untuk menyertai Perang Salib II. Bahkan Raja Perancis, Louis VII (1120-1180), dan Raja Jerman, Cornad III (1093-1152), memimpin langsung Perang Salib II.

Walaupun jumlahnya sangat besar, pasukan Salib yang dipimpin oleh Louis dan Conrad banyak menghadapi serangan orang-orang Turki di Asia Minor, sehingga saat tiba di Antioch jumlah pasukan mereka sudah banyak berkurang. Mereka tiba di Antioch pada bulan Maret 1148 dan tiba di Yerusalem pada bulan Mei 1148.

Walaupun Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya Edessa, pasukan Salib yang dipimpin oleh Louis dan Conrad akhirnya tidak berusaha menguasai kota itu. Berdasarkan kesepakatan dengan para pemimpin Frank di Palestina dan Syria, mereka sepakat untuk menyerang Damaskus. Serangan dan pengepungan atas Damaskus dilakukan pada bulan Juli 1148. Namun serangan ini tidak berhasil dan diantara pemimpin Salib yang baru datang dan para pemimpin Frank di Syria dan Palestina terjadi perselisihan. Louis, Conrad, dan seluruh pasukannya akhirnya kembali ke Perancis dan Jerman tanpa mendapatkan hasil yang diharapkan.

Saat berbicara tentang Perang Salib, ada satu nama yang sangat jarang terekspos oleh khalayak. Padahal kontribusi beliau untuk menghadapi pasukan Salib mendahului perjuangan Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193). Nuruddin Zanki, bersama para ulama di zamannya, merupakan pemimpin pertama di Syria yang menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang sebelumnya meredup dan membuat mereka kalah dari pasukan Salib.

Walaupun Nuruddin Zanki wafat sebelum pembebasan al-Quds, namun semua kontribusinya menjadi pondasi yang sangat kokoh dan membantu Shalahuddin dalam mewujudkan keberhasilannya.

V. Keunggulan dan Kekurangan Buku

• Secara isi/ide: bagus. Karena membuka cakrawala kita tentang tokoh yang selama ini belum diketahui oleh banyak orang. Alur dan diksinya pun tak memihak antara kaum satu dengan yang lainnya.

• Secara struktur: lengkap dengan timeline, indeks, daftar pustaka, dan lain-lain. Ditambah dengan tabel informasi yang sangat informatif. Namun di sisi lainnya, table informasi ini juga merupakan kelemahan buku. Karena dapat mengalihkan konsentrasi pembaca. Pembaca yang awam akan cukup dibingungkan ketika sedang membaca dan akan menebak-nebak tentang keterikatan alur antara tulisan yang berada di dalam tabel informasi dengan tulisan yang berada di luar tabel informasi.

VI. Amanat Buku

Buku ini mengajarkan pada kita semua tentang arti penting dari mengenal sejarah dan menghargai jasa pahlawan. Khususnya para pahlawan-pahlawan Islam.

VII. Saran

Untuk referensi, peresensi menyarankan buku Philip K. Hitti “The History of The Arabs”. Yang mana merupakan sumber belajar sejarah Islam yang mayoritas digunakan di dunia.

http://www.penaaksi.com/2013/09/nuruddin-zanki-dan-perang-salib.html

Monday, March 11, 2013

IBF Award 2013 - Nominasi Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi Dewasa

Alhamdulillah, buku 'Nuruddin Zanki dan Perang Salib' masuk dalam nominasi Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi Dewasa pada Islamic Book Fair (IBF) 2013, walaupun tidak sampai terpilih. :)


Nominasi Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi Dewasa:

1. Judul : Chiefdom Madinah Salah Paham Negara Islam

Penulis : Dr. Abdul Aziz, MA

Penerbit : Alvabet

2. Judul : Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara

Penulis : Abu Muhammad Waskito

Penerbit : Pustaka Al-Kautsar

3. Judul : Nasab dan Status Anak Dalam Hukum Islam

Penulis : Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag

Penerbit : Amzah

4. Judul : Nuruddin Zanki & Perang Salib

Penulis : Alwi Alatas

Penerbit : Zikrul Media Intelektual

5. Judul : Ulama & Kekuasaan

Penulis : Jajat Burhanudin

Penerbit : Noura Books Mizan


Penerima Penghargaan IBF Award ke-9 tahun 2013 Buku Islam Terbaik Kategori Nonfiksi Dewasa adalah :

Ulama & Kekuasaan, Penulis : Jajat Burhanudin, Penerbit : Noura Books Mizan

http://islamic-bookfair.com/opini-pilihan/335-nominasi-dan-pemenang-ibf-award-2013.html

Thursday, October 11, 2012

Resensi buku ‘Nuruddin Zanki dan Perang Salib’

Oleh: Ust. Ali Akbar Bin Agil

Nuruddin Zanki, Pelopor Jihad Melawan Pasukan Salib

Judul : Nuruddin Zanki dan Perang Salib
Penulis : Alwi Alatas
Penerbit : Zikrul Hakim
Terbit : 2012
Tebal : 441 hal.
Harga : Rp. 70.000,00

Tentu kita masih ingat statement George Bush persis tiga bulan pasca tragedi 9/11 dengan menyatakan bahwa perang melawan Al-Qaedah, Taliban, dan memburu Usamah adalah bentuk Perang Salib Jilid II.

Awalnya, ada yang berharap setelah terbunuhnya Osama bin Laden, Amerika akan menghentikan perangnya di Afghanistan. Bukankah alasan Amerika melakukan intervensi untuk membunuh Osama? Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Obama menegaskan kembali bahwa perang ini belum berakhir.

Kita teringat dengan pernyataan Bush yang mengatakan, “This crusade, this war on terrorism, is going to take a long time.” Artinya Perang salib melawan Islam ini memang membutuhkan waktu yang lama.


Apalagi kalau memperhatikan pernyataan Tom Ridge mantan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Amerika dalam editorial The Washington Times (5/5/2011). Saat mengomentari terbunuhnya Osama bin Laden dia mengatakan, “we killed the man but not the ideology.” Artinya yang menjadi sasaran perang ini jelas adalah ideologi Islam yang berseberangan dengan nilai-nilai liberal yang dianut oleh Amerika Serikat. Menurutnya, ini adalah medan pertempuran, perang ide, way of life (cara pandang hidup) Islam dan Amerika yang tidak bisa berdamai dan hidup berdampingan.

Pernyataan mantan pejabat tinggi senior Amerika Serikat ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat dan bukan pula hal yang baru. Semua ini menunjukkan permusuhan abadi Barat terhadap dunia Islam bersifat agama dan peradaban yang telah berakar dalam hati dan pikiran Barat. Barat membangun semua hubungan ini atas dasar Perang Salib. Barat tak ingin umat Islam bangkit kembali.

Perang Salib sendiri berawal dari seruan Paus Urbanus II pada tahun 1095 di Clermont, Perancis, tepat pada bulan November. Seruannya membahana di seantero jagat wilayah Eropa. Masyarakat Eropa menyambut antusias dan dengan semangat yang telah membara mereka menyiapkan bekal sendiri guna keberangkatan ke medan laga dengan rela menjual barang-barang berharga miliknya.

‘Khutbah’ Paus Urbanus didasari permintaan bantuan Byzantium (Romawi Timur) kepada Paus. Permintaan bantuan berupa kiriman pasukan perang dimaksudkan untuk menghadapi pasukan Turki yang sering menyerang wilayahnya. Permintaan inilah yang menjadi momentum mengumumkan perang total terhadap pasukan Islam demi merebut Al-Quds. Raymond of Saint-Gilles, Godfrey de Bouillon, Bohemond of Taranto, Baldwin, dan Tancred, merupakan sederet nama panglima perang pasukan Salib.

Setelah serangan bertubi-tubi ke jantung pasukan Islam, maka pada tahun 1099 atau 4 tahun setelah pengumuman perang Paus Urbanus II, Al-Quds jatuh ke tangan pasukan Kristen. Bersamaan dengan jatuhnya Al-Quds pula, tidak kurang dari 70.000 orang Islam yang menghuni wilayah Al-Qudsdi tewas dibantai.

Kekalahan ini membawa duka mendalam di hati umat Islam yang kala itu sibuk dengan debat dalam masalah mazhab, perebutan kekuasaan, yang menyebabkan saling berperang, saling bersaing, dan saling bermusuhan.

Usaha menyatukan umat Islam dimulai dari penguasa Mossul dan Aleppo, Imaduddin Zanki. Gerakan ke arah pembebesan yang lebih intensif dilakukan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Dalam sejarah Perang Salib, kaum Muslimin sangat mengenal sosok pejuang Salahuddin al-Ayubi dibanding Nuruddin Mahmud Zanki ini. Namanya tak setenar Salahuddin, sang pembebas kota Yerussalem dari kekuasan pasukan Salib. Meski demikian, Nuruddin-lah yang pertama kali menggelorakan semangat perjuangan itu.

Menurut penulis, Alwi Alatas, upaya Nuruddin Mahmud Zanki membuat umat Islam sadar atas kesalahan dan kelemahan dilakukan dengan menjauhkan pasukannya dari menenggak minuman keras, memerintahkan mereka untuk berkonsentrasi penuh dalam membebaskan Al-Quds dari cengkraman tentara Salib, menghindari konflik dengan sesama umat Islam, menyatukan wilayah-wilayah Islam yang tercecer di Syiria dengan lemah lembut sehingga menarik simpati publik secara luas, dan menerapkan pola kepemimpinan yang amanah, jujur, dan adil.

Seorang ulama Qutbuddin Annisaburi begitu khawatir akan keberanian Nuruddin, "Demi Allah, jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum Muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang,” ujar Qutbuddin. Maka ia pun menjawab, “Siapa Nuruddin itu, sehingga ia dikatakan demikian? Mudah-mudahan karena (kematian) ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam. Itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah dengan hak melainkan Dia.”

Nuruddin adalah pemimpin yang selalu optimis. Pembebasan Baitul Maqdis di Yerusalem dari genggaman pasukan Salib adalah hal yang paling didambakannya. Hingga tahun 569 H/1173 M, kerja keras Nuruddin untuk menyatukan kekuatan umat Islam yang terkotak-kotak dalam kerajaan-kerajaan kecil mencapai puncaknya. Berbagai pertempuran dahsyat antara umat Islam yang dipimpinnya dengan pasukan Salib kerap terjadi. Berbagai serangan yang dilakukannya berhasil melemahkan pasukan Salib hingga terpecah belah.

Walhasil, sekitar 50 kota dan benteng yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib berhasil direbut. Pada 570 H/1174 M, kekuatan Islam telah terbentang dari Iraq ke Syria, Mesir, hingga Yaman. Saat yang dinanti-nanti untuk merebut Baitul Maqdis pun kian dekat. Namun takdir Allah SWT berkata lain. Nuruddin meninggal akibat penyakit penyempitan tenggorakan. Kepemimpinan kemudian dipikul muridnya, Shalahuddin al-Ayyubi.


Buku ini ditulis secara naratif lengkap dengan tabel informasi penting, gambar, dan peta-peta, untuk membantu pembaca dalam memahami dan mengikuti rentetan peristiwa Perang Salib hingga akhir masa kepemimpinan Nuruddin Zanki.

Monday, August 13, 2012

Ratusan Jamaah Hadiri Bedah Buku di An Nur

24 Juli 2012 - 10.02 WIB > Dibaca 175 kali Print

PEKANBARU (RP) - Hari pertama, ratusan jamaah hadiri bedah buku keislaman di Masjid Agung Annur Pekanbaru.

Kegiatan bedah buku tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Umum BPMAA Drs Sukmadi Senin (23/7).

Helat yang dilaksanakan setiap hari dari Senin hingga Jumat itu bertempat di aula Masjid Agung Annur. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis.

Mengulangi tradisi keilmuan tahun-tahun sebelumnya, Tafaqquh Study Club bekerja sama dengan majlis taklim Masjid Agung Annur, Badan Pengelola Masjid Agung Annur Pekanbaru dan pengurus Masjid Akramunnas Unri menyelenggarakan bedah buku keislaman. Ramadan 1433 H ini, Tafaqquh membedah 15 buku-buku keislaman.

Sementara itu Pembina Tafaqquh Study Club mengemukakan untuk membedah buku-buku tersebuh, pihaknya menghadirkan para ustad yang pakar di bidang masing-masing, sesuai dengan buku yang akan dibedah. Bahkan Tafaqquh menghadirkan langsung para penulis buku yang akan dibedah.

Seperti buku Muhammad Alfatih akan dibedah penulisnya yakni Ustad Felix Siauw. Khusus bedah buku Al-Fatih ini tempat penyelenggaraannya berada di Masjid Akramunnas Unri Gobah Pekanbaru Sabtu (28/7).

Sementara itu Ustad Alwi Alatas MA akan membedah karyanya berjudul Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Mahasiswa Program Doktoral di Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia itu akan hadir pula mendiskusikan bukunya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Zainab dan di Forum Silaturahmi Remaja Masjid Muthmainnah (FRSMM) Polda Riau.

Pada hari pertama Senin (23/7), buku yang dibedah bertajuk Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat. Buku karya penulis Timur Tengah Abu Hudzaifah Ibrahim ini dibedah oleh Ustad Syamsuddin Muir Lc MA.

Para pembedah buku lainnya yakni Ustad Masridi Hasan Lc MA, Abdul Somad Lc MA, Muhammad Abdih Lc MA, Muhammad Hidayatullah Lc MA, Fikri Mahmud Lc MA, Ridwan Hasbi Lc MA, Isran Bidin MA, Elviriadi MA, Dr Khairul Anwar MA, Saidul Amin MA dan Jumhur Hidayat MA.(ira)

http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=14746&kat=1

Thursday, August 9, 2012

Nuruddin Mahmud Zanki [bag. 1]

Nuruddin Mahmud Zanki, Pahlawan Muslim yang Terlupakan [bag. 1]

Kamis, 09 Agustus 2012

Oleh: Alwi Alatas

PADA tahun 1187, tak lama setelah pembebasan al-Quds (Yerusalem) oleh Shalahuddin al-Ayyubi, sebuah mimbar yang indah dipindahkan dari Aleppo (ulama menyebutnya Halabi) ke Masjid al-Aqsha. Mimbar yang telah dibuat beberapa tahun sebelumnya itu merupakan sebuah simbol kekuatan visi dan cita-cita pembebasan al-Quds. Ia memang dibangun untuk diletakkan di Masjid al-Aqsha jauh sebelum tempat itu sendiri berhasil dibebaskan dari kekuasaan tentara salib. Mimbar itu dibangun sebelum masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi oleh seorang sultan yang juga saleh, yaitu Nuruddin Mahmud Zanki (1118-1174).

Nuruddin Zanki memang meninggal dunia tiga belas tahun sebelum berhasil mewujudkan apa yang dicita-citakannya. Tetapi ia memainkan peranan yang sangat penting dalam memperbaiki keadaan masyarakat Muslim di Suriah yang sebelumnya sibuk dengan konflik internal dan perselisihan madzhab. Ia merupakan seorang sultan di Suriah, dan kemudian juga di Mosul (Iraq) dan Mesir.

Pemerintahannya tidak ditandai dengan adanya penaklukkan spektakuler terhadap wilayah musuh seperti yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih terhadap Konstantinopel atau Shalahuddin al-Ayyubi terhadap al-Quds. Tetapi apa yang dilakukannya boleh jadi lebih penting. Ia menaklukkan dengan keshalehan dan nilai-nilai yang agung dari Tuhannya. Kekuatan militernya tidak dilengkapi dengan persenjataan fisik yang hebat dan istimewa. Tetapi ia memiliki senjata yang jauh lebih menggetarkan musuh-musuhnya, yaitu kekuatan doa dan pertolongan dari Yang Maha Penolong. Seorang non-Muslim di al-Quds bahkan mengakui hal ini.

“Sesungguhnya Abul Qasim (Nuruddin) memiliki sirr ‘rahasia’ dengan Allah,” katanya. “Tidaklah ia mengalahkan kami dengan bala tentaranya yang banyak, akan tetapi ia menang atas kami dengan doa dan shalat malamnya. Ia shalat di malam hari, mengangkat tangannya kepada Allah untuk berdoa dan meminta kepada-Nya. Dan Allah mengabulkan permintaannya serta tidak menjadikan doanya sia-sia, sehingga akhirnya dia menang atas kami.”


Nuruddin Zanki memerintah wilayah Suriah Utara setelah ayahnya, Imaduddin Zanki, wafat pada tahun 1146. Usianya ketika itu 28 tahun. Ia memerintah wilayah itu dari kota Aleppo (Halab). Ketika kakaknya meninggal dunia pada tahun 1149, ia menggabungkan Mosul di Iraq dalam wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1154, Damaskus, kota penting lainnya di Suriah, juga masuk dalam wilayah pemerintahannya setelah melalui strategi yang cukup panjang.

Pada akhir masa pemerintahannya, tepatnya pada tahun 1169, Shirkuh dan keponakannya Shalahuddin yang bekerja di bawah pemerintahannya menambahkan Mesir ke dalam wilayah pemerintahan Nuruddin Zanki. Hal ini membuat kekuatan salib di al-Quds terjepit di antara wilayah kepemimpinan Nuruddin Zanki. Hanya saja beliau meninggal dunia tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 1174. Kepemimpinan atas wilayah-wilayah itu kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang juga memerintah dengan cara-cara yang Islami sehingga pada akhirnya berhasil membebaskan al-Quds dari tangan pasukan salib pada tahun 1187.

Prestasi Militer Nuruddin Zanki

Nuruddin Zanki memiliki gaya militer yang khas. Ia tidak tergesa-gesa dalam menghadapi pasukan lawan. Kadang saat pasukannya berada di suatu daerah dan mendengar kedatangan pasukan musuh ke tempat itu, ia akan menarik pasukannya ke tempat lain. Tetapi ia melakukan hal itu untuk menyelidiki jumlah dan keadaan pasukan lawan, sambil terus melakukan pengintaian. Setelah musuh berangkat kembali dari tempat mereka, Nuruddin akan mengikuti dan menyergap mereka dengan tiba-tiba. Dengan cara ini, ia berhasil memenangkan banyak pertempuran dan mengurangi jumlah korban dari pasukan Muslim.

Adapun terhadap emir-emir Muslim di Suriah-Palestina yang masih menentangnya, ia menghindari konflik terbuka serta pertempuran fisik dengan mereka. Ia selalu menyeru mereka untuk berjihad bersamanya melawan kekuatan salib. Jika mereka menentangnya, ia akan melakukan tekanan politik terhadap mereka sambil melakukan persuasi dan menarik simpati para ulama di wilayah-wilayah yang dipimpin oleh para emir itu. Dengan begitu, walaupun para ulama dan masyarakat tersebut berada dalam wilayah kekuasaan yang berbeda, tetapi hati mereka bersama Nuruddin Zanki dan selalu mendoakan kemenangannya. Kesalehan serta cara-cara yang lembut seperti inilah yang membuat Nuruddin Zanki pada akhirnya dapat menyatukan seluruh Suriah ke dalam satu pemerintahan, setelah wilayah itu tercerai berai dan saling bermusuhan selama lebih dari setengah abad.

Ia sangat terampil berkuda dan memimpin secara langsung banyak pertempuran pada masa itu. Keberaniannya di medan tempur membuat seorang ulama pada masanya, Qutb al-Din al-Nasawi, menasihatinya, ”Demi Allah, jangan membahayakan dirimu dan seluruh dunia Islam! Kalau Anda gugur di medan pertempuran, maka seluruh Muslim yang hidup akan dibunuh (oleh musuh).” Tapi Nuruddin Mahmud Zanki mempunyai pandangan yang berbeda. ”Dan siapalah Mahmud sehingga dikatakan seperti ini?” katanya. “Sebelum saya lahir sudah ada yang lain yang membela Islam dan negeri ini, yaitu Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya!”

Ia sangat memperhatikan keadaan pasukannya dan selalu menjadikan mereka siap siaga dalam menghadapi pasukan musuh. Pasukannya merupakan yang paling kuat di Suriah pada masa itu. Tentang ini Ibn al-Qalanisi berkata, ”Tidak ada yang pernah melihat tentara yang lebih baik daripada tentaranya ... (baik) dalam hal penampilan, perlengkapan, maupun jumlahnya.”

Namun karena keadaan kaum Muslimin ketika itu belum sepenuhnya bersatu padu dalam menghadapi musuh, maka pembebasan wilayah itu dari pasukan salib masih harus menunggu saat yang lebih tepat.

Bukan hanya tentara yang dipersiapkan, kuda-kuda pun selalu dalam keadaan terlatih. Di waktu senggangnya, Nuruddin Zanki suka berburu dan bermain polo kuda. Ketika seorang temannya yang saleh mendengar tentang kebiasaannya bermain polo kuda, ia segera menyuratinya: “Aku tidak menyangka bahwa kau senang dengan permainan yang tak ada manfaatnya serta menyiksa kuda tanpa faedah diniyah.”

Maka Nuruddin menjawab surat tersebut, “Sesungguhnya kami berada di front pertahanan, yang mana musuh sangat dekat dari kami, sehingga kami harus selalu siap siaga untuk mengantisipasi setiap serangan. Dan tidak mungkin kami terus-menerus berperang dan berjihad siang dan malam, musim dingin dan musim panas, karena bala tentara kami juga memerlukan istirahat. Dan juga tidak mungkin kami biarkan kuda-kuda kami hanya diam di kandangnya tidak bergerak, karena itu akan membuat mereka lemah dan tak mampu berlari jauh dan cepat, menikuk, menyerang di medan perang. Maka dari itu kami senantiasa melatihnya dan terus membiasakannya agar hilang kelemahannya dan selalu siap berlari cepat dan taat kepada penunggangnya di waktu peperangan. Dan inilah, demi Allah Swt, yang menjadikan aku bermain polo kuda.”

Pencapaian Militer

Selama masa pemerintahannya, ada beberapa pencapaian militer yang cukup penting yang telah dilakukan oleh Nuruddin Zanki dalam menghadapi Pasukan Salib, antara lain seperti berikut ini:

Pertama, ia ikut memberikan dukungan kepada Damaskus saat terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Ketika itu pasukan dari Perancis dan Jerman yang dipimpin oleh Raja Louis VII dan Raja Conrad III bergerak ke Suriah dan Palestina. Sebetulnya Perang Salib kedua ini dipicu oleh jatuhnya Edessa ke tangan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, pada tahun 1144. Tetapi sesampainya di Palestina, pasukan yang baru datang dengan orang-orang Frank (orang-orang Eropa Barat) yang telah menetap di Palestina bersepakat untuk mengarahkan serangan pada Damaskus.

Pasukan salib kemudian mengepung kota Damaskus yang dipimpin oleh Mu’inuddin Unur. Tetapi kota itu mampu bertahan, dan pada saat yang sama pasukan Nuruddin Zanki dan pasukan Saifuddin Ghazi, kakak Nuruddin, bergerak dari Aleppo dan Mosul menuju ke Damaskus untuk memberikan bantuan. Pasukan salib akhirnya memutuskan untuk mundur dari kota itu. Raja Louis dan Conrad kembali ke negeri mereka masing-masing dengan memendam kekecewaan terhadap orang-orang Frank di Suriah-Palestina yang dianggap telah ikut berperan dalam kegagalan tersebut. Tak lama setelah peristiwa itu, Mu’inuddin dan Nuruddin Zanki berhasil menangkap seorang bangsawan Eropa, Bertrand, yang menyertai Perang Salib II. Bertrand kemudian dibawa ke Aleppo dan ditahan selama dua belas tahun lamanya di kota itu.

Kedua, pada tahun 1149, dalam pertempuran di daerah Inab, pasukan Nuruddin Zanki berhasil mengalahkan pasukan Raymond of Poitiers, pemimpin Antioch, yang ketika itu dibantu oleh sepasukan Assassin. Nuruddin pada awalnya menarik pasukan saat mengetahui pasukan musuh mendekati Inab. Tetapi ia terus mengintai dan memperhatikan gerak-gerik pasukan lawan. Kemudian saat lawan beristirahat di suatu tempat, Nuruddin menempatkan pasukannya di sekelilingnya, sehingga lawan mereka dalam keadaan terkepung saat bangun di pagi hari. Raymond of Poitiers dan pemimpin Assassin yang menyertainya gugur dalam pertempuran itu.

Ketiga, pada tahun berikutnya, 1150, sepasukan Turki Saljuk berhasil menangkap Joscelin, pemimpin wilayah Edessa yang ibukotanya telah dikuasai oleh Nuruddin. Penahanan Joscelin kemudian diambil alih oleh Nuruddin. Joscelin ditahan di Aleppo dan meninggal dunia di penjara sembilan tahun kemudian.

Keempat, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Nuruddin Zanki berhasil menyatukan Damaskus ke dalam wilayah kepemimpinannya pada tahun 1154. Proses penyatuan Damaskus berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1149, ketika Mu’inuddin Unur wafat. Pengambil-alihan kota ini dilakukan oleh Nuruddin karena penguasa kota ini tidak mau membantunya berjihad dan malah menjalin kerjasama dengan kekuatan salib.

Lamanya proses penguasaan ini disebabkan Nuruddin menghindari terjadinya pertempuran terbuka di antara kedua belah pihak yang sama-sama Muslim. Walaupun Nuruddin berkali-kali membawa pasukannya mendekati Damaskus, tetapi ini dilakukannya sebagai bentuk tekanan politik dan psikologis terhadap pemimpin Damaskus, dan hal itu tidak membawa pada pertempuran yang berarti di antara kedua belah pihak. Nuruddin melakukan langkah-langkah persuasif kepada para ulama dan tokoh-tokoh di Damaskus, sehingga lama kelamaan penguasa kota itu kehilangan dukungan dari rakyatnya sendiri. Akhirnya kota itu berhasil dikuasainya setelah masyarakat Damaskus sendiri yang membuka gerbang kota itu. Dikuasainya Damaskus oleh Nuruddin menandai suatu era baru di Suriah setelah wilayah itu terpecah belah sejak tahun 1090-an.

Kelima, pasukan Nuruddin berhasil menangkap Reynald of Chattilon, pemimpin Antioch selepas wafatnya Raymond of Poitiers, dalam sebuah pertempuran pada tahun 1160. Reynald yang kepemimpinannya banyak menimbulkan masalah itu kemudian diikat dan dibawa ke Aleppo. Ia ditahan selama enam belas tahun di kota itu.

Keenam, atas permintaan Mesir sendiri dan karena adanya ancaman pasukan salib atas negeri itu, Nuruddin mengirimkan tiga kali ekspedisi militer ke Mesir di bawah pimpinan Shirkuh antara tahun 1164 dan 1169. Mesir akhirnya jatuh ke tangan pasukan Nuruddin. Dinasti Fatimiyah yang menguasai wilayah itu kemudian dihapuskan pada tahun 1171, menjadikan Mesir menyatu ke dalam wilayah pimpinan Nuruddin Zanki.

Pada akhir masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki mencakup wilayah Suriah, Hijaz, Mesir, dan sebagian Irak. Nuruddin berhasil menyatukan wilayah-wilayah itu ke dalam satu pemerintahan dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pondasi utama pemerintahannya. Sementara pada saat yang sama, kekuatan salib mulai tidak kompak di antara sesama mereka dalam menghadapi kekuatan Muslim. Apa yang dibangun oleh Nuruddin ini kelak menjadi pondasi yang kokoh bagi pemimpin berikutnya di wilayah-wilayah itu, yaitu Shalahuddin al-Ayyubi, dalam menghadapi pasukan salib dan membebaskan al-Quds.

Bagaimanapun, kekuatan dan prestasi militer hanya salah satu bagian yang penting dari pemerintahan Nuruddin Zanki. Di samping militer, ada hal lain yang membuat kepemimpinan Nuruddin sangat berkesan, yaitu dibangunnya nilai-nilai Islam yang kuat di wilayah itu.

Karakter Islami Pemerintahan Nuruddin

Nuruddin Zanki terkenal sebagai pemimpin yang saleh dan adil. Ibnu al-Athir, seorang sejarawan Muslim, penulis kitab Al-Kamil fi-l-Tarikh, menganggapnya sebagai pemimpin Muslim yang paling adil selepas Umar bin Abdul Aziz.

Nuruddin dikenal sebagai pemimpin yang selalu menjaga shalat berjamaah, shalat malam (Qiyamul Lail), banyak membaca al-Qur’an, dan berpuasa. Ia memiliki ilmu agama yang mendalam, sangat dekat dengan para ulama, dan ikut meriwayatkan hadits bersama mereka.

Keadilan dan penegakkan syariah merupakan hal yang sangat menonjol dalam pemerintahannya. Ia mendorong dilangsungkannya majelis-majelis ilmu, mendirikan madrasah-madrasah, serta memberikan berbagai wakaf untuk keperluan agama dan masyarakat.

Di antara sumbangan pentingnya bagi kemaslahatan orang ramai adalah pendirian rumah sakit yang dikenal sebagai maristan. Berikut ini ada beberapa karakteristik penting yang dimiliki oleh Nuruddin dan pemerintahannya.*/bersambung

Penulis adalah penulis buku "Nuruddin Zanki dan Perang Salib" kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Red: Cholis Akbar

http://www.hidayatullah.com/read/24241/09/08/2012/nuruddin-mahmud-zanki,-pahlawan-muslim-yang-terlupakan-%5Bbag.-1%5D.html

Wednesday, July 18, 2012

Menjelang Ramadhan 492 H di al-Quds

Diperkirakan 70 ribu kaum Muslimin di al-Qud dibunuh secara kejam

Rabu, 18 Juli 2012

oleh: Alwi Alatas

BEBERAPA hari menjelang Ramadhan, 913 tahun yang lalu, kota al-Quds (Yerusalem) jatuh ke tangan pasukan Salib. Peristiwa ini terjadi pada Perang Salib pertama dan menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan dunia Islam pada masa itu.

Pasukan Salib yang dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles, Godfrey of Buillon, dan beberapa bangsawan Prancis dan Italia lainnya itu memang menjadikan al-Quds sebagai sasaran utama mereka. Mereka berangkat sejak pertengahan tahun 1096, sebagai respons atas seruan Paus di Roma untuk merebut al-Quds dan membantu Byzantium dalam menghadapi tentara Turki Saljuk. Setelah berkumpul di Konstantinopel (kini bernama Istambul), mereka bergerak ke Asia Minor dan menaklukkan kota Nicaea pada bulan Juni 1097.

Nicaea ketika itu merupakan ibukota Kesultanan Rum, salah satu kesultanan Bani Saljuk. Pada tahun berikutnya, Juni 1098, mereka berhasil merebut kota Antioch (Antakya) di utara Suriah, setelah mengepungnya selama sembilan bulan. Dan setahun setelahnya, awal Juni 1099, tentara Salib tiba di depan tembok al-Quds.

Ketika itu al-Quds berada di bawah kendali Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Mesir.

Pasukan Salib mengepung beberapa bagian kota itu. Mereka membangun menara kayu untuk menembus benteng kota. Mereka berdoa dan melakukan upacara keagamaan dengan berjalan mengelilingi al-Quds tanpa mengenakan alas kaki, sementara kaum Muslimin memperhatikan dari atas tembok kota. Mereka berjuang di tengah teriknya musim panas pertengahan tahun itu, dengan terus mengenakan baju perang, serta adanya keterbatasan akses terhadap air.


Dengan semangat dan kesungguh-sungguhan, pasukan Salib akhirnya berhasil memasuki tembok kota al-Quds dari bagian utara. Hal ini terjadi pada pagi atau siang hari Jum’at tanggal 15 Juli 1099, bertepatan dengan 23 Sha’ban 492 H. Maka, kota ini pun jatuh ke tangan pasukan Kristen Eropa hanya seminggu menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Sementara biasanya banyak peziarah Muslim yang datang ke kota ini untuk menetap selama bulan Ramadhan.

Apa yang terjadi setelah itu? Sebagian pembaca mungkin sudah pernah mendengarnya. Puluhan ribu kaum Muslimin yang berada di kota ini dibunuh secara kejam, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, serta antara orang dewasa dengan orang tua dan anak-anak. Pembantaian terjadi selama tiga hari hingga satu minggu. Berikut ini merupakan penjelasan beberapa sejarawan terkait dengan peristiwa tersebut:

Fulk of Chartes, salah satu saksi sejarah dan penulis kisah Perang Salib I menjelaskan, “Banyak yang melarikan diri ke atap Kuil Sulaiman, dan mereka dipanah hingga jatuh ke tanah dan mati. Di tempat ini hampir sepuluh ribu orang yang terbunuh. Sungguh, jika kalian berada di sana kalian akan melihat kaki-kaki kami berwarna (merah) hingga ke lutut disebabkan darah korban. Tapi seperti apa lagi saya akan menjelaskannya? Tak satu pun dari mereka yang dibiarkan hidup; tak satu pun perempuan dan anak-anak yang disisakan....”

Ibn al-Athir dalam kitab Tarikh-nya menulis, “Di Masjid al-Aqsa orang-orang Frank membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang, sebagian besar dari mereka adalah para imam, ulama, orang-orang shaleh dan para sufi serta kaum Muslimin yang meninggalkan negeri tempat tinggal mereka dan datang untuk menjalani kehidupan yang shaleh pada bulan Agustus/ Ramadhan ini.”


“… tak ada usia ataupun jenis kelamin yang selamat dari amukan mereka,” kata Edward Gibbon dalam History of the Decline And Fall of the Roman Empire. “Mereka melakukan pembantaian selama tiga hari tanpa memilah atau memilih (siapa yang layak dibunuh dan siapa yang tidak)…. Setelah tujuh puluh ribu Muslim dibunuh, dan orang-orang Yahudi yang tak berbahaya dibakar di dalam sinagog mereka, mereka masih memiliki sisa tawanan yang sangat banyak....”

Sementara itu Joseph Francois Michaud, seorang Sejarawan Prancis, menulis dalam bukunya yang dikenal sebagai Michaud’s History of the Crusade, “Tak satu pun air mata kaum perempuan maupun jeritan tangis anak-anak, bahkan tak juga pemandangan atas tempat di mana Yesus telah memaafkan orang-orang yang mengeksekusinya (dahulu), mampu melembutkan hati para penakluk yang sedang marah ini.”

Semua itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan apa yang telah terjadi di al-Quds pada masa itu. Dan pasukan Salib yang telah melumuri tangannya dengan darah banyak manusia ini tidak menganggap apa yang mereka lakukan itu sebagai sesuatu yang buruk atau kedzaliman yang besar. Seolah semuanya biasa saja. “Setelah itu,” kata Fulk of Chartes, “semuanya, para pendeta dan orang-orang biasa, pergi ke Gereja Makam Tuhan (the Sepulcher of the Lord) dan kuilnya yang suci, sambil menyanyikan kidung (gereja) yang kesembilan.”

Kaum Muslimin tidak melakukan hal semacam ini ketika mereka menaklukkan al-Quds dan Palestina pada masa Umar ibn al-Khattab. Penduduk Kristen dan Yahudi di kota itu diperlakukan dengan baik oleh kaum Muslimin sepanjang kota dan wilayah itu dikendalikan oleh kaum Muslimin. Kelak ketika al-Quds direbut kembali oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1187, beliau juga memperlakukan penduduk non-Muslim di kota itu dengan baik. Tidak ada balas dendam atau pembantaian yang dilakukan atas penduduk non-Muslim di sana. Sebaliknya, jatuhnya al-Quds pada tahun 1099 ke tangan pasukan Salib benar-benar merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang besar.


Ketika kota itu jatuh ke tangan pasukan Salib, kaum Muslimin bukanlah bangsa yang lemah. Sebetulnya mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menahan serangan lawan. Hanya saja para pemimpin mereka sibuk mempertahankan kekuasaan masing-masing dan banyak ulamanya dilenakan dengan perselisihan madzhab. Masyarakat yang terdzalimi dan terancam kehidupannya tidak tahu kemana mereka mesti mengadu.

Kira-kira satu bulan kemudian, pada bulan Ramadhan, bertepatan dengan pertengahan Agustus 1099, serombongan masyarakat berangkat dari Damaskus menuju Baghdad, dipimpin oleh Qadi kota Damaskus, Abu Sa’ad al-Harawi. Sesampainya di Baghadad, al-Harawi melakukan sebuah tindakan provokatif untuk memancing emosi kaum Muslimin. Ketika itu hari Jum’at, 19 Agustus 1099, menjelang tengah hari. Orang-orang berbondong-bondong menuju Masjid Jami’ kota Baghdad.

Al-Harawi sengaja duduk di dekat masjid, di tempat yang bisa dilihat oleh banyak orang. Dan dia makan di tempat umum tersebut, ketika semua orang sedang berpuasa. Hal semacam ini jika dilakukan pada hari ini di negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim tetapi secara resmi berpaham sekuler, tentu akan tetap menimbulkan kemarahan orang banyak. Apalagi jika ia dilakukan di Baghdad, di pusat kekhalifahan Islam, pada masa itu. Al-Harawi sebagai seorang musafir tentu dibolehkan tidak berpuasa, tetapi orang-orang tidak mengetahui hal ini, dan makan di tempat terbuka di siang hari pada bulan Ramadhan merupakan sebuah pelanggaran etika sosial yang dipandang cukup serius.

Maka orang-orang pun mengerumuni al-Harawi. Mereka menegur dan marah kepadanya. Tapi al-Harawi tetap melanjutkan makannya dengan tenang. Tak lama kemudian petugas keamanan yang berada di dekat situ mulai datang ke tempat itu. Pada saat itulah al-Harawi bangkit berdiri di tengah kerumunan orang ramai. Dengan kemampuan orasinya yang bagus ia bertanya kepada khalayak ramai, bagaimana mungkin mereka bisa begitu peduli dengan pelanggaran puasa di bulan Ramadhan, tetapi pada saat yang sama mereka nyaris tidak peduli dengan pelanggaran dan pertumpahan darah yang menimpa saudara-saudara mereka di al-Quds dan sekitarnya? Bagaimana mereka bisa tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa di sana? Ia memberikan orasi, menceritakan apa yang telah terjadi, dan membacakan syair-syair yang menyentuh, sehingga semua orang menjadi tertegun dan menangis karenanya.

Al-Harawi dan rombongannya kemudian pergi menemui Khalifah di istananya. Khalifah dan orang-orang dekatnya menerima rombongan ini, mendengarkan kisah dan ekspresi kesedihan mereka, sehingga ikut menangis juga saat mendengar semua itu. Tapi masalahnya, khalifah pada masa itu tidak memiliki kekuasaan yang riil untuk membantu kaum Muslimin di Syria dan Palestina. Tidak ada tindakan nyata yang diambil setelah itu. Maka orasi dan protes al-Harawi dan rombongannya hanya berujung pada tangisan manusia, atau mungkin juga doa dari mereka, tidak lebih dari itu.

Demikianlah nasib al-Quds ketika itu. Ia jatuh ke tangan pasukan Salib dan dikusai oleh mereka selama hampir satu abad. Kota ini perlu menunggu waktu yang cukup lama sebelum muncul kekuatan baru di Syria yang siap dan mampu untuk membebaskannya.

Kini al-Quds pun telah sekian dekade dikuasai oleh zionis. Kaum zionis ini pun banyak melakukan pembunuhan dan perilaku keji terhadap rakyat sipil yang ada di Palestina. Dan Muslim pada hari ini tidak memiliki kemampuan untuk membebaskannya. Mereka lemah dan sibuk memperlemah diri sendiri. Seolah-olah kelemahan yang ada belum mencukupi bagi mereka. Banyak dari Muslim hari ini pun mungkin hanya sanggup berdoa dan menangis saat mendengar apa yang terjadi di Palestina, ataupun di bumi-bumi Muslim yang lain. Bahkan mungkin banyak dari mereka yang tak peduli. “Toh mereka bukan saudara atau kawan saya,” gumam sebagian mereka, sambil sibuk mengirim dukungan SMS untuk salah satu kontestan Indonesian Idol atau sambil terkagum-kagum membolak-balik halaman buku yang ditulis oleh Irshad Manji.

Sejarah memang sering berulang. Dan seolah-olah syair yang ditulis oleh seorang penyair pada masa itu, sebagai respons atas kejatuhan al-Quds, kembali bergema pada hari ini:

“Putra-putra Islam, di belakangmu ada pertempuran yang di dalamnya kepala-kepala menggelinding di antara kakimu

Beraninya kalian tidur-tiduran di balik bayang-bayang keamanan, dalam hidup yang lembek seperti bunga-bungaan di taman?

Bagaimana mungkin mata dapat tertidur di balik pelupuknya di saat terjadi bencana yang akan membangkitkan setiap orang yang tidur?

Sementara saudara-saudara kalian di Suriah hanya dapat tidur di atas hewan-hewan tunggangan, atau di dalam perut burung-burung pemakan bangkai!”


Dan, seorang seorang penyair lainnya menulis bait yang menusuk ini:

“Tidakkah kalian berhutang kepada Allah dan Islam, untuk membela anak muda dan orang tua?

Jawablah kepada Tuhan! Terkutuklah kalian! Jawab!!!”


Ya Allah, mungkin keadaan kami pada hari ini memang sudah demikian buruknya. Entah bagaimana kami akan menjawabnya ….*/Singapura, 26 Sya’ban 1433/ 16 Juli 2012

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

http://hidayatullah.com/read/23749/18/07/2012/menjelang-ramadhan-492-h-di-al-quds-.html

Tuesday, July 3, 2012

Nuruddin Mahmud Zanki-Bagian I-Republika

Nuruddin Mahmud Zanki: Raja Adil, Cahaya Agama (Bag 1)
Sabtu, 18 Pebruari 2012, 18:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ia adalah seorang raja dan pemimpin yang zuhud. Makanan yang dikonsumsinya tak lebih baik dari hidangan orang paling miskin pada zaman itu.

Umat Islam lebih mengenal sosok Salahuddin Al-Ayubi, sebagai pemimpin tentara Muslim dalam Perang Salib. Padahal, di era Perang Salib II, dunia Islam juga memiliki sosok pejuang dan pemimpin yang tak kalah hebatnya dibanding Salahudin. Tokoh pembela agama itu dikenal dengan nama Nuruddin Zanki.

‘’Nuruddin merupakan seorang yang sangat berjasa dalam penyatuan negara-negara muslim dan penakluk tentara salib dalam Perang Salib Kedua,’’ ujar Syekh Muhammad Said Mursi dalam bukunya Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Ia dikenal sebagai seorang tentara pejuang yang menguasai teknik berperang, hingga mampu memukul mundur pasukan Tentara Salib.

Sejatinya, Nuruddin Mahmud Zanki memiliki nama lengkap Al-Malik Al-Adil Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin Imaduddin Zanki. Dalam darahnya mengalir ningrat dari Dinasti Zanki yang menguasai Suriah pada 1146 M hingga 1174 M. . ‘’Nama panggilannya adalah Abu Qasim dan ia dijuluki Nuruddin (Cahaya Agama) dan raja yang adil,’’ tutur Syekh Said Mursi.


Ayahnya bernama Imaduddin Zanki, penguasa Aleppo dan Mosul. Ketika ayahnya meninggal dunia, Nuruddin dan kakaknya, Saifuddin Ghazi I, membagi Kerajaan Zanki tersebut menjadi dua. Nuruddin menguasai Aleppo dan kakaknya menguasai Mosul. Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh sungai Khabur.

Tak lama setelah menduduki tahta raja, Nuruddin memperluas wilayah kekuasaannya dan berhasil menaklukkan Kerajaan Antiokhia. Ia dan pasukannya merebut beberapa istana di bagian utara Suriah. Pasukan yang dipimpin Nuruddin juga berhasil mematahkan serangan Joscelin II yang berupaya mencaplok Kerajaan Edessa, salah satu daerah kekuasaan Nuruddin.

Ia terpaksa harus mengusir seluruh populasi Kristen dari kota tersebut sebagai hukuman karena mereka bersekutu dan membantu pasukan Jocelin II. Peristiwa itu terjadi pada Perang Salib I. Pada 1147, Nuruddin menandatangani perjanjian bilateral dengan Gubernur Damaskus, Mu’inuddin Unur.

Kebijakan itu dilakukannya untuk memperkuat hubungan dengan negeri tetangga di utara agar dapat melawan musuh mereka di Barat. Sebagai bagian dari kerja sama, ia menikahi anak perempuan sang gubernur. Setelah keduanya membangun aliansi, mereka menyerang kota Bosra dan Sarkhand. Kedua kota tersebut direbut oleh pengikut Mu’inuddin yang memberontak.

Lantaran gagal merebut Kerajaan Edessa pada Perang Salib I, kerajaan-kerajaan Kristen dari Barat mulai melancarkan misi militer lewat Perang Salib II. Adalah Raja Prancis Louis VII, dan Raja Jerman Conrad III adalah tokoh yang memantik meletusnya Perang Salib II. Mereka berambisi untuk kembali merebut wilayah yang telah ditaklukkan pasukan tentara Muslim.

Namun, upaya mereka untuk menguasai wilayah Kristen di Suriah tak berjalan mulus. Pasukan Tentara Salib dihadapkan pada kekuatan militer tangguh yang dipimpin Nuruddin. Ambisi Raja Louis VII dan Conrad III pun tak kesampaian. Mereka gagal merebut Damaskus.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Friska Yolandha

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/18/lzl7a6-nuruddin-mahmud-zanki-raja-adil-cahaya-agama-bag-1

Koreksi: Edessa termasuk kerajaan pertama yang berhasil direbut oleh pasukan salib pada Perang Salib I. Terjadinya Perang Salib II dipicu oleh jatuhnya kembali kerajaan itu ke tangan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, pada tahun 1144.

Monday, July 2, 2012

Buku Nuruddin Zanki dan Perang salib

Deskripsi:

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama membahas tentang Perang Salib I dan kekalahan umat Islam di dalamnya. Bagian kedua membahas tentang Perang Salib II, kemunculan Nuruddin Zanki serta peranannya membangun nilai-nilai Islam di Syria-Palestina dalam upaya menghadapi pasukan salib. Nuruddin Zanki merupakan seorang Sultan Bani Saljuk yang shalih dan merupakan pendahulu Shalahuddin al-Ayyubi. Kemunculan Nuruddin Zanki merupakan awal dari proses kemenangan kaum Muslimin dalam menghadapi kekuatan salib. Peranannya sangat penting dalam sejarah Islam, tapi sayangnya kurang dikenal oleh kaum Muslimin kontemporer. Ibn al-Athir, seorang sejarawan Muslim, berkomentar tentang beliau: "Saya telah membaca kehidupan raja-raja terdahulu, dan setelah Khulafa al-Rashidin dan Umar ibn Abdul Aziz, saya tidak menemukan seseorang yang lebih lurus dan lebh gigih dalam menegakkan keadilan (selain Nuruddin Zanki)."

Walaupun agak tebal, buku ini ditulis dengan menggunakan pendekatan naratif, sehingga mudah dibaca dan dipahami. Buku ini juga dilengkapi dengan peta dan ilustrasi, serta keterangan khusus untuk nama-nama dan istilah-istilah penting, sehingga lebih membantu pembaca yang belum begitu akrab dengan jalannya sejarah yang dijelaskan di dalam buku ini.

Bagi siapa saja yang ingin mengetahui secara mendalam tentang terjadinya perang salib hingga masa kepemimpinan Nuruddin Zanki, buku ini insya Allah akan sangat membantu. Jangan lewatkan membaca buku ini dan memasukkannya dalam daftar koleksi Anda.

Buku Baru

Sudah terbit di Indonesia: Judul: Nuruddin Zanki dan Perang Salib Penulis: Alwi Alatas Penerbit: Zikrul Hakim (Jakarta) Tahun Terbit: 2012 Tebal: 441 halaman Harga: Rp. 70.000,00